Majelis Pustaka dan Informasi - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Pustaka dan Informasi
.: Home > Artikel

Homepage

TUNAS MELATI MUDA PENERUS DAKWAH SANG SURYA DI TANAH LEGENDA

.: Home > Artikel > Majelis
03 Agustus 2020 23:43 WIB
Dibaca: 588
Penulis : Rohadi

Mampir di Watu Amben, Menikmati Keindahan Yogyakarta dari ...  Sekolah Kita

  PRM Dahromo - Posts | Facebook

 

Lomba Penulisan
FACHRODIN AWARD 2020
Topik 4. Tokoh Muhammadiyah Lokal
 
 
Judul:
TUNAS MELATI MUDA PENERUS DAKWAH SANG SURYA DI TANAH LEGENDA
 
Penulis: 
Rohadi, Dahromo II, Segoroyoso, Pleret, Bantul, DIY
 
 

Groep Moehammadijah Dahromo Kotagede, begitu SK Moehammadijah Hindia Timoer yang diterbitkan tertanggal 1 Juli 1928, untuk meresmikan dakwah Muhammadiyah yang telah beberapa tahun dirintis oleh Mbah Amat Sidiq, Mbah Yusuf, Mbah Marjuki, Mbah Khawari, Mbah Khamim, Mbah Abdullah Mukhsin, dan Mbah Abdullah Rofie, dan Mbah Yusuf di sebuah dusun bernama Dahromo di Pleret selatan. Sungguh hal yang menakjubkan memang, ditengah daerah yang penuh diselimuti legenda, mitos, dan hal-hal berbau takhayul, atau dalam bahasa persyarikatan dikenal dengan TBC (takhayul, bid'ah, dan Churafat), berdiri sebuah Ranting Muhammadiyah yang berkembang dengan pesat dan besar. Di sebuah lembah yang merupakan bekas sebuah lautan buatan yang dibuat pada zaman Sultan Agung Hanyakrakusuma yang memerintah kesultanan Mataram Islam pada tahun  1591-1670 M.

 

Laut buatan yang dalam bahasa Jawa disebut segara yasan dan kemudian menjadi nama kelurahan Segoroyoso. Konon, awalnya dibuat sebagai tempat latihan bagi prajurit angkatan laut Mataram Islam dalam persiapan menyerang Batavia, Tempat itu dipenuhi banyak mitos dan takhayul di sekitarnya. Dalam majalah Djawa yang terbit tahun 1940, RM. Gandhajoewana menulis di halaman 213-217, tentang tradisi Rebo Wekasan dan mitos pertemuan sang Sultan Agung dengan Nyi Roro Kidul di Bukit Permoni yang terletak di sebelah barat dusun Dahromo. Di lokasi ini ada peninggalan berupa selo amben, payung, teken, tapak kuda sembrani, dan Gua Siluman.

 

Kabut TBC itu kian pekat bila kita melihat ke arah timur Dahromo, di situ terdapat makam Raden Datuk Kusumo yang diklaim sebagai wali keturunan Rasulullah yang dikeramatkan dan sering diziarahi. Di sebelah selatan Dahromo terdapat gunung Pasar Setan yang tidak kalah diselimuti halimun kabut tebal TBC tentang titik pertemuan dan bertransaksinya para makhluk halus. Di tengah kabut TBC yang tebal itulah melalui perjuangan Mbah Shidiq dan koleganya menyingsing sinar Sang Surya secara perlahan menyinari lembah Dahromo.

 

Dari perjuangan keras generasi pertama yang beberapa diantaranya ikut mengaji langsung di Kauman Jogja, serta komunikasi intensif Mbah Abdul Kanan dan kawan-kawan, yang saat itu ikut bekerja membangun Musholla Muhammadiyah di dusun Prenggan (sekarang di kompleks SD Muhammadiyah Kleco 1 dan 2),  maka lahirlah Groep Moehammadijah Dahromo Kotagede. Bahkan, melalui kegigihan para da'i terutama Mbah Amat Sidiq, sinarnya juga menerangi wilayah sekitarnya, seperti Dusun Karet, Pungkuran, Suren, Kanoman, dan Kedungpring. Tertulis indah juga nama-nama para da'i yang ikut mengembangkan dakwah Muhammadiyah di Dahromo (semoga Allah memberikan kebaikan kepada mereka), yaitu Mbah Musidi, Mbah Muryadi, Mbah Abdul Khamid, Mbah Mulyorejo, Mbah Sakir, Mbah Muksom, dan Mbah Munaji,

 

Dan pagi ini, aku duduk sendiri di atas Bukit Permoni, memandang ke ufuk timur, sambil melihat indah sinar pagi sang Mentari yang pelan merambat naik, selayak tamsil Pimpinan Ranting Muhammadiyah Dahromo yang sedang berbenah memasuki gerbang abad kedua, di dalam kemudi seorang anak muda bernama Triyanto. Setelah melalui estafet panjang kepempimpinan kolektif kolegial, mulai dari masa bakti Bapak Shidiq, Bapak Muh. Yusuf, Bapak Asmuni Abdurrahman, Bapak Drs. Pratomo, Bapak Wasul Shodiq, Bapak Gunarto, Bapak H.M. Arwan, Bapak Guwanto, dan sekarang dilanjutkan oleh Mas Triyanto.

 

Mas Yanto, begitu dia biasa dipanggil, Pak Guru sekolah dasar itu adalah temanku sendiri, aku ingin menceritakan tentangnya, bukan karena kami sahabat dekat sejak aktif bersama di IRM Banguntapan Pleret, tapi karena aku berharap semoga banyak generasi muda yang tertular semangatnya, yang tiada enggan dan segan siap menerima estafet kepemimpinan Persyarikatan di usia muda. Aku juga berharap bahwa tulisan ini menjadi doa seorang sahabat yang menjadi pemantik baginya, agar lebih bersemangat mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Dahromo.

 

Walaupun masih berusia muda untuk ukuran menjadi nakhoda sebuah Ranting, dia mulai aktif di PRM Dahromo dalam usia 25 tahun dan terpilih sebagai ketua Ranting Muhammadiyah Dahromo di usia 35 tahun. Tapi, aku yakin dengan pengalamannya selama ini, dia mampu menjadi nakhoda yang tangguh. Cucu dari Mbah Abdullah Siraj, seorang yang sangat dikenal rajin dan teguh ibadahnya, dan putra ketiga dari Lik Amir, guru ngajiku di masa kecil ini, memang sejak kecil dididik dalam keluarga yang agamis dan berpaham Muhammadiyah.

 

Mbah Abdullah Siraj terkenal sebagai orang yang sangat rajin beribadah dan ahli jama'ah di kampung kami. Bahkan, hujan deras di subuh hari tak mengendurkan semangatnya untuk tetap berjamaah subuh. Demikian juga Paklik Amir, yang aku tahu begitu memegang paham Muhammadiyah dengan sungguh-sungguh semenjak mudanya, bahkan ketika banyak teman-temannya belajar bela diri plus ilmu-ilmu kanuragan kekebalan, beliau menolak yang demikian itu. Pergaulan di Kotagede semasa beliau muda sebagai perajin kulit, lalu menjadi rekan kerja di proyek bangunan bersama Mbah Amat Satari tokoh sepuh Muhammadiyah Dahromo, serta kehadiran rutin di pengajian yang diadakan Ranting atau Cabang, benar-benar membentuk karakter beliau. Tak heran jika buku Himpunan Putusan Tarjih selalu berada di meja ngaji beliau, ketika mengajar kami dahulu.

 

Latar belakang pendidikan putra tersayang Bu Lanjariyah ini memang biasa. Memulai sekolah dasar di SD Muhammadiyah Wonokromo II, melanjutkan SMP Negeri Gondowulung, kemudian SMK Negeri 5 Jogja, dan menjadi sarjana pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta. Namun demikian, Mas Triyanto menambah ilmu pengetahuan agama, dengan cara selain mengaji langsung pada Pak Amir beliau juga mengaji kepada beberapa guru agama dan aktif di banyak kajian ilmu lainnya.

 

Beranjak remaja, disaat aku mengenalnya, Mas Triyanto sangat aktif di organisasi otonom Muhammadiyah IRM, PM, TPA Al-Hidayatul Ulum Dahromo, dan organisasi pemuda PERSADA. Mas Triyanto sangat gemar mengajak remaja-remaja lain untuk ikut aktif dalam kegiatan keagamaan di lingkup Ranting kami, dimana ada 10 masjid/musholla Muhammadiyah yang aktif membina warganya.  Aku termasuk yang diajak Mas Triyanto untuk ikut aktif di kegiatan-kegiatan keagamaan dan kemuhammadiyahan. Dengan sabar Mas Triyanto menuntun kami, membimbing kami untuk aktif, mulai dari tingkat Ranting, Cabang, hingga ke tingkat Daerah. Masa-masa itu berjalan sangat indah, persahabatan yang terjalin dalam ikatan Persyarikatan, pelan namun pasti, menjaga kami dari goda dan coba di usia remaja.

 

Selayak Robin bagi Batman di komik, semisal Nakula Sadewa di dunia wayang, begitulah perumpamaan kami dalam menjalani masa sebagai aktifis dakwah di usia muda. Selalu bersama dalam satu masa bakti kepengurusan, misal saat Mas Triyanto menjadi ketua PC IRM Banguntapan Pleret, aku menjadi wakilnya. Ketika dia menjadi ketua Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah Dahromo, aku juga menjadi wakilnya. Begitu kebersamaan itu terus terbentuk, hingga akhirnya kami harus berpisah ketika aku menikah dan harus pindah rumah ke Sewon. Saat itu Mas Triyanto terpilih menjadi ketua baru Pimpinan Ranting Muhammadiyah Dahromo, sementara  aku menjadi sekertaris 2.

 

Perpisahan itu sungguh terasa sangat menyedihkan, namun aku bersyukur kepada Allah atas banyak kesempatan untuk bertumbuh kembang dan menimba ilmu bersamanya. Dari Mas Triyanto aku belajar bagaimana menjadi kader persyarikatan yang selalu siap menerima amanah  Muhammadiyah kapan pun dan dimana pun. Seperti saat ia membimbing aku belajar ikut membesarkan AUM SMA Muhammadiyah Pleret, bagaimana dia terpilih sebagai salah satu tenaga awal pendidik di SD Unggulan Aisyiyah Bantul, dan ketika dia dengan sigap sami'na wa atho'na menjalankan tugas sebagai kepala sekolah di sekolah rintisan baru SD Unggulan Aisyiyah Pandak. Dari pancaran pengalamannya itulah yang membuatku bersemangat saat mendapatkan amanah ikut mengembangkan SD Muhammadiyah Pandes Program Plus, dan kemudian ikut merintis dari nol Ponpes MBS Pleret Bantul. Mas Triyanto juga pernah dipercaya sebagai Ketua LSBO PCM Pleret dan saat ini juga aktif sebagai salah satu anggota Majelis Tabligh PDM Bantul.

 

Dengan latar pengalaman itulah yang membuat aku yakin, atas pertolongan dan bimbingan Allah, Mas Triyanto di usia mudanya akan mampu menjadi nakhoda bagi Ranting Muhammadiyah Dahromo. Ranting Muhammadiyah Dahromo adalah salah satu pimpinan ranting tertua di Kabupaten Bantul dengan karakter sangat unik dan khas, dimana mayoritas anggotanya adalah petani, tukang, pedagang, dan buruh dengan latar pendidikan yang biasa-biasa saja. Namun, sangat jelas dalam ingatanku dan dari penuturan para sesepuh kampung dan orang tua kami, dengan kondisi pendidikan dan masyarakat yang seperti itu, bagaimana roda organisasi persyarikatan Muhammadiyah berjalan sangat dinamis dan sangat tertata administrasinya, juga kegiatannya. Pernah, di tahun 1965, tiga personil kader muda Dahromo yaitu Pratomo, Jumarno, dan Gunarto ikut terpilih sebagai PGT (Pasukan Genderang Terompet Hizbul Wathan) dibawah koordinator Bapak H. Djarnawi Hadikusumo, Bapak Affandi, dan Bapak Harjibun B.A. yang ditunjuk oleh PP Muhammadiyah untuk mengikuti kirab di Solo.

 

Di lapangan amal usaha, alhamdulillah masih sangat jelas jejak-jejak peninggalannya, 10 Masjid dan musholla, SD Muhammadiyah Wonokromo II, PAUD dan TK ABA Dahromo, TPA Al-Hidayatul Ulum, beberapa petak kebun dan sawah produktif, menjadi bukti nyata.

 

Berbekal semangat muda, pengalaman yang kompleks, dan warisan amal usaha dari para pendahulu itulah Mas Triyanto membuat beberapa program dalam menjalankan roda organisasi PRM Dahromo. Di bidang peribadahan, untuk menyemarakkan dan menggembirakan jamaah di 10 masjid dan musholla Muhammadiyah, diselenggarakan Safari Subuh Berjamaah oleh PRM Dahromo. Kegiatan safari ibadah, yang biasanya diadakan oleh instansi pemerintahan setahun sekali saat tarawih ramadhan, dimodifikasi dan diadakan sepekan sekali oleh PRM Dahromo. Selain membersamai sholat berjamaah di masjid dan musholla Muhammadiyah, kegiatan ini juga diisi dialog dan sambung rasa antara pengurus PRM Muhammadiyah Dahromo dan jamaah. Alhamdulillah, dengan sarana ini menjadi stimulus dan penggiat bagi kegiatan jamaah di 10 masjid dan musholla Muhammadiyah di lingkup Ranting Dahromo.

 

Program untuk penguatan AUM juga diluncurkan, salah satunya adalah pembentukan tim pengembang SD Muhammadiyah Wonokromo II. Berbekal pengalaman Mas Triyanto di dunia pendidikan, maka dibentuklah sebuah tim yang merupakan sinergi dari PCM Pleret, PRM Dahromo, pihak sekolah, serta tokoh-tokoh masyarakat Dahromo dan sekitarnya. Dengan tugas ikut mendorong perkembangan dan kemajuan sekolah, tim ini dibentuk dibawah koordinasi langsung Mas Triyanto.

 

Program lainya adalah Festival Takbir Keliling Pimpinan Ranting Muhammadiyah Dahromo. Menilik semangat yang menggebu dari adik-adik Angkatan Muda Muhammadiyah Dahromo, serta besarnya jumlah jamaah (anggota) Ranting Muhammadiyah Dahromo yang membawahi Dusun Dahromo I, Dahromo II, dan Trukan Barat. Festival ini diadakan dalam rangka menggembirakan Angkatan Muda Muhammadiyah dan mengeratkan jamaah Ranting Muhammadiyah Dahromo. Di samping itu, juga dikuatkan beberapa program unggulan PRM Dahromo di berbagai bidang yang telah berjalan selama ini seperti kegiatan PHBI, kajian-kajian dan pembinaan rutin di 10 masjid dan musholla Muhammadiyah.

 

Perlunya sentral kegiatan Muhammadiyah di Ranting Dahromo juga mendorongnya untuk mengadakan program pendirian gedung sekretariat PRM Dahromo, yang alhamdulillah, atas bantuan semua pihak juga sudah berdiri.

 

Dan program impiannya yang telah tertulis di program jangka panjang PRM Dahromo adalah menjadikan Dahromo sebagai Kampung Muhammadiyah. Untuk merealisasi rencana ini, secara fisik akan dibangun sebuah gapura Selamat Datang di Kampung Muhammadiyah, juga pemasangan atribut-atribut Muhammadiyah di setiap rumah warga. Dan secara psikis, tentunya, dibangun dan dibina mental spiritual kehidupan sehari-hari warga dalam suasana Islami yang bernafaskan Pedoman Hidup Islami warga Muhammadiyah.

 

Dengan berbinar senyum, aku menatap sang Mentari yang hampir sepenggalah naik, cerah bersinar, selayak hatiku yang bahagia dan berharap melihat semakin bersinar Sang Surya, menuju abad keduanya di lembah Dahromo tercinta. Aku turun dari Bukit Permoni ini perlahan, sambil mencium aroma semilir angin yang mengabarkan bahwa di sebelah tenggara lembah Dahromo, sekira 3,5 hektar tanahnya akan dibebaskan untuk pendirian sebuah pondok pesantren Muhammadiyah, MBS Pleret. Semakin adem hati ini, terdengar sayup-sayup nyanyian Mars Sang Surya di telingaku, membuncah harapan akan munculnya generasi yang semakin Islami, di bawah sinar Sang Surya di atas lembah Dahromo ini.

 

Ya Allah, semua adalah skenarioMU yang indah. Sambil tersenyum kuambil air wudhu di langgar paling selatan di Dahromo II, salah satu langgar wakaf Muhammadiyah dari keluarga Ibu Hajjah Wajirah. Semoga harapan dan doa-doa Dhuha ini Engkau Ijabahi, ya Rabbi......

 

Pelan, merambat gelora semangat membuncah di dada, dan kembali terdengar di telinga, mantab derak suara mars Sang Surya di dalam jiwa

 

Lihatlah matahari telah tinggi

Di ufuk timur sana

Seruan Ilahi Rabbi

Sami'na wa Atho'na

Ya Allah, Tuhan Rabbiku

Muhammad junjunganku

Al Islam agamaku

Muhammadiyah gerakanku

Muhammadiyah gerakanku

 

 

Lembah Dahromo

Di masa pandemi

Juli 2020

 

 

Foto saat musyawarah ranting dan terpilih sebagai ketua

 

Kegiatan Safari Subuh dan Maghrib berjamaah PRM Dahromo

 

Jalan sehat PRM Dahromo memperingati Milad Muhammadiyah


Tags: TUNASMELATIMUDAPENERUSDAKWAHSANGSURYADITANAHLEGENDA , FACHRODINAWARD2020 , Rohadi

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website