cool hit counter

Majelis Pustaka dan Informasi - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Pustaka dan Informasi
.: Home > Artikel

Homepage

Risalah Pencerahan dalam Konteks Keummatan dan Kebangsaan

.: Home > Artikel > Majelis
13 Mei 2019 00:55 WIB
Dibaca: 147
Penulis : Admin

foto: IwanSetiaYk.

 

Pengantar Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., dalam Pengkajian Ramadhan 1440/2019 di ITB Ahmad Dahlan Jakarta,  12 Mei 2019.

 

Dalam Pengkajian Ramadhan kali ini, kita angkat tema risalah pencerahan sebagaitindaklanjut dari keputusan Sidang Tanwirdi Bengkulu, 16-17 Februari 2019, tentang Risalah Pencerahan. Agar pemikiran tentang Risalah Tanwir tidak hanya menjaditeks yang indah,tetapimenjadi komitmen dan dilaksanakan dalam persyarikatan Muhammadiyah, serta dalam peran kebangsaan dan peran global.

 

Kita sudah lama memperkenalkan istilah pencerahan. Dan hal ini sudah menjadi gugusan pemikiran sertamenjadi perspektif pemikiran Muhammadiyah. Bahkan, selanjutnya menjaditema Muktamar di Malang 2005 dan pada tahun 2010 menjadipenguatan gerakan Muhammadiyah abad ke-2. Jadi,kata pencerahaan ini menjadi matarantai dariberkemajuannya gerakan Muhammadiyah dariabad pertama.

 

Dalam rentang waktu 1 abad,kitabergelut denganisu kemajuan. Ini asli pemikiran Ahmad Dahlan. Kata ini kemudian menggelinding, Tahun 1938 dilanjutkan oleh KH. Mas Mansur. Kemudian terkandung dalam 12 Langkah Muhammadiyah. Jadi,pemikiran-pemikiranMuhammadiyah ini sangat sistematis. Di tahun 1946 ada rumusan Muqoddiman Anggaran Dasar Muhammadiyah. Ada juga 5 pemikiran Muhammadiyah (al-masail al-khamsah, masalah lima)tahun 1954-1955. Tahun 1968 lahir Matan Keyakinan Cita-cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah, tahun 1978 lahir rumusah Khittah Muhammadiyah. Kemudian lahir Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (Keputusan Muktamar tahun 2000). Pada tahun2010, dalam Muktamar 1 Abad Muhammadiyah,lahir Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua, kemudian yang terbaru (Muktamar tahun 2015) ialah pemikiran tentang Darul Ahdi waSyahadah.

 

Pikiran-pikiran Muhammadiyah ini tercatat dalam beberapa risalah. Ada pidato resmi Ahmad Dahlan tentang Tali Pengikat Hidup. Ada juga 7 falsafah ajaran Ahmad Dahlandan 17 kelompok ayat-ayat al- Quran, ada jugaajaran tentang surat Al-Ashr yang disampaikan oleh Kiyai Ahmad Dahlan dalam waktu sekitar 7 bulan. Juga ajaran tentang akal pikiran murni. Disana jugaada pemikiran kemajuan dan pemimpin kemajuan. Kesemua ini adalah pemikiran-pemikiran fundamental dalam gerakan Muhammadiyah.

 

Hasanah ini sangat jarang terungkap. Akhir-akhirini kemudian digali lagi dan disistematisasi. Pada zaman kepemimpinan Buya Ahmad Syafii Maarif (1998-2005) digelindingkan kata “Pencerahan”. Ada juga khasanah Muhammadiyah tentang Tanwir yang dikodifikasi tahun 1935, dimulai penyelenggaraan Sidang Tanwir pada tahun 1935 di Banjarmasin. Ini pikiran asli Muhammadiyah.

 

Kata Tanwir diambil darikata “nuur, artinyacahaya (memantulkan cahaya). Makna “naaromengeluarkan terang dan enerji. Makna “arro'yu yaitu akal pikiran. Dimensi cahaya-cahaya yang otentik dan menghidupi,juga akal yang membuat kehidupan yang remang-remangmenjadi terang benderang. Inilah yang kitaambil menjadi kata pencerahan.

 

Jadi,Tanwir setidaknya memiliki limaunsur esensial. Pertama, dimensi keyakinan,yaitu tauhid yang mencerahkan. Maka,dalam bermuhhammmadiyah dan berislam tauhid menjadi asas. Tauhid bukan hanya keilahiyahan saja tetapijuga mencakup kemanusiaan. Bahkan, tauhid jugaberbicara tentang alam semesta. Maka, orang yang bertauhid tidak akan melakukan penindasan kepada sesamanya. Orang bertauhid tidak akan merasa paling hebat dariyang lain.

 

Kedua, elemen keadaban (al akhlak al kariim). Akhlak sebagai wilayah etik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan hanya akhlak individual tetapi juga mencakupkesalehan sosial. Orang Muhammadiyah melakukan sesuatu selalu ikhlas, tidak pura-pura. Membangun keadaban itu denganetika. Termasuk dalam masalah politik kebangsaan, maka harus menjadiuswah hasanah (teladan yang baik). Dalam kondisi panas maka kitaharus menjadipendingin.

 

Ketiga, dimensi iqra. Iqra (membaca)melahirkan gerakan pemikiran dan ilmu. Di Muhammadiyah dikenal pendekatan bayani, burhani dan irfani dalam pemikiran keislaman untuk merespon problem-problem kontemporen yang sangat kompleks. Inilah konstruksi keilmuan yang harus terus dikembangkan oleh Muhammadiyah. Orang muhammadiyah harus pro terhadap pengembangan ilmu. Muhammadiyah harus mengembangkan budaya iqrasehingga selalu melakukan nalar kritis.

 

Keempat, elemen kemajuan (alhadoroh). Islam pencerahan itu Islam berkemajuan. Muhammadiyah bukan hanya retorika dan diksi, tetapi jugadibuktikan dalam gerakan. Kehadiran Muhammadiyah telah menerobos banyak kemajuan di tanah air dalam berbagai hal, baik pendidikan, hizbul wathan, gerakan perempuan dan lain-lain. Karya-karyakemajuan Muhammadiyah adalah bagian daririsalah kemajuan. Semua amal usaha Muhammadiyah harus berkemajuan.

 

Kelima, dimensi kerahmatan. Islam itu rahmatan lil alamin, memberikan kemaslahan untuk siapa saja, dan itu sudah dipraktekkan oleh Muhammadiyah. Gerakan itu dilakukan Muhammadiyah sampai ke pelosok-pelosokdalam keberagamaanyang berbeda-beda. Muhammadiyah tidak mengedepankan slogan-slogan, tetapi langsung terjun. Inilah peran Muhammadiyah. Kalau hanya sekedar memberikan label-labelitu sangat mudah dilakukan, dan yang demikian itu bisa berpotensi  meretakkan ukhuwah. Maka,mubaligh Muhammadiyah harus lebih darimubaligh-muballighlain baik dari segiilmu dan akhlak. Faham terhadap urusan politik, Muhammadiyah harus beyond, melampaui semua praktek-praktekpraktis yang ada. Semua warga Muhammadiyah harus menghadapi dinamika politik dengan cerdas.

 

Saya berharap semua warga Muhammadiyah membaca 10 sifat atau  karakter Muhammadiyah, agar kita faham terhadap garis perjuangan Muhammadiyah secara benar. Muhammadiyah bukan individu tetapi jam’iyah yang didalamnya ada sistem.

 

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, denganrisalah tanwir, maka ada cara yaitu baik dalam dakwah atau perjuangan Muhammadiyah melakukan revitalisasi,dari cara keras konfrontatif menjadi pendekatan moderat yang berorientasi solusi dan mencerdaskan. Pendekatan yang moderat dan mencair itu harus menjadialternatif dalam menyelesaikan masalah kebangsaan.

 

Kalau teologi ini yang kitabangun,maka kitaakan tuma’ninahdan dalam kondisi tenang. Jadi,kita terus berjuang di Muhammadiyah membawa risalah, tanpa pamrih, semuanya karena Allah.

 

Penulis: Roni Tabroni

Editor: Arief Budiman Ch.


Tags: RisalahPencerahandalamKonteksKeummatandanKebangsaan , PengkajianRamadhan14402019 , ITBAhmadDahlanJakarta

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website