Majelis Pustaka dan Informasi - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Pustaka dan Informasi
.: Home > Artikel

Homepage

MENGUSIR KABUT HITAM: RANTING MUHAMMADIYAH KADIPIRO BERKIPRAH MENGGUGAH MASYARAKAT

.: Home > Artikel > Majelis
30 September 2020 00:15 WIB
Dibaca: 424
Penulis : Muhammad Bintang Akbar

Masjid Ibrahim Kadipiro

 

 

Lomba Penulisan

FACHRODIN AWARD 2020

Topik 4. Tokoh Muhammadiyah Lokal

 

 

Judul:

MENGUSIR KABUT HITAM: RANTING MUHAMMADIYAH KADIPIRO  BERKIPRAH MENGGUGAH MASYARAKAT

 

Penulis:

Muhammad Bintang Akbar, Kadipiro, Yogyakarta

 

 

            Sejarah pergerakan Islam di Indonesia mengalami dinamika yang panjang dan kompleks. Berbagai fase mulai dari kedatangan Islam hingga peranannya di abad ke-21 tak terlepas dari aktor maupun organisasi yang ada di negeri ini. Salah satu babak menarik dalam narasi sejarah terkait hal ini adalah kelahiran dan dinamika Muhammadiyah. Organisasi yang diejawantahkan dengan gerakan tersebut digagas oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912. Muhammadiyah pun memulai kiprahnya. 

 

            Berbagai kegiatan mulai dari sosial hingga keagamaan digarap oleh organisasi yang kini sudah berusia 100 tahun lebih. Melalui pilar feeding untuk kesejahteraan, healing untuk kesehatan, dan schooling untuk pendidikan maka fokus utama dari pergerakan organisasi adalah menuntaskan tugas kemanusiaan untuk memberdayakan sumber daya manusia. Menariknya, K.H. Ahmad Dahlan bukanlah seorang penguasa wilayah yang dengan serta merta dapat mengintervensi pemikiran dan tindakannya dari atas, semua dimulai dari bawah.

 

            Beliau dan santri-santri Langgar Kidul Kauman memulai secara perlahan namun pasti. Mengusir keberadaan kabut hitam untuk menggugah umat Islam mengenai kemajuan dan modernitas. Dimulailah memalui ibadah ritual yang harus berpadu melalui ibadah sosial. Latar belakang sebagai pengusaha batik membuat dukungan dari rekan sejawat mengalir. Tak sampai di situ, toleransi yang dijunjung tinggi membuat sosok Kiai ini juga turut mengajar di Kweekschool Yogyakarta milikPemerintah Kolonial Hindia-Belanda hingga belajar organisasi modern kepada Boedi Oetomo.

 

            Berkaca pada embrio dan latar belakang rintisan Muhammadiyah, tak heran apabila kini menjadi salah satu organisasi terbesar di Indonesia. Sejak awal, merintis dari bawah atau yang sekarang akrab disebut “memulai dari cabang dan ranting” telah terbukti menjadikannya kuat karena mengakar di masyarakat. Tercatat ada 8 ribuan ranting Muhammadiyah di seluruh Indonesia dan tentunya memiliki cerita perjuangan masing-masing. Dalam hal ini, salah satu ranting yang memiliki perjuangan tak mudah namun sarat makna adalah Ranting Muhammadiyah Kadipiro yang berada di wilayah Kabupaten Bantul, DIY, namun sebenarnya lokasinya hanya berjarak sekitar 2 km di sebelah barat Kampung Kauman Yogyakarta.

 

            Ranting Muhammadiyah Kadipiro tidak dapat terlepas dari kiprah empat sosok yang merupakan keluarga bersama seorang menantu. H. Ahmad Usman (Mbah Usman), Hj. Tumiyem (Mbah Tum), dan Siti Nuryati (Budhe Yati) merupakan satu keluarga. Ditambah dengan H. Tubin Sakiman (Pakde Sakiman) yang merupakan suami dari Siti Nuryati. Apabila dirunut secara genealogis-historis, maka persentuhan dengan Muhammadiyah sebenarnya sudah ada dalam keluarga ini. Berikut informasi singkat mengenai empat sosok perintis Ranting Muhammadiyah Kadipiro.

 

  

H. Ahmad Usman atau Mbah Usman (kiri) dan Hj. Tumiyem atau Mbah Yem (kanan)

 

            Mbah Usman lahir di Moyudan, Sleman, Yogyakarta pada 10 November 1913. Masa kecil yang dihabiskan sebagai anak desa tentu membuatnya mengenal Islam bercampur dengan budaya kejawen. Menurut pengakuannya kepada Ahmad Riyatno dan Nur Masrini, cucu sekaligus Putra Pakde Sakiman dan Budhe Yati bahwa ketika remaja, beliau turut membawa bendera Muhammadiyah ketika ada pertemuan besar persyarikatan di Yogyakarta. Apabila menafsirkan dari pengakuan tersebut, maka didapatkan hasil bahwa beliau turut serta di Rapat Tahunan atau di Konggres Muhammadiyah. Walaupun telah mengenal Muhammadiyah yang merepresentasikan gerakan modern Islam, namun tradisi kejawen yang dimilikinya seperti berdoa di makam, tahlilan, hingga gendurenan masih tetap dilakukan. Keaktifan berdakwah Keislaman melalui bendera Muhammadiyah ditekuni sembari menjalankan profesi keseharian sebagai petani dan pedagang.

 

            Mbah Tum lahir di Nanggulan, Kulonprogo, lalu pindah ke kampung Serangan, Kota Yogyakarta. Posisi geografis tempat  tinggalnya yang tak jauh dari kantor pusat Muhammadiyah membuat sosok perempuan tangguh ini mengenal Muhammadiyah secara kultural. Sebelum menikah dengan Mbah Usman, beliau pernah menikah dengan seorang bernama Hasyim kemudian memiliki satu anak bernama Tjahjoto Wasidul kemudian bercerai. Keseharian yang mengisi kehidupannya menjadi seorang penjahit disamping menunaikan kewajiban sebagai Ibu yang mendidik anak-anaknya dan mendampingi suami dalam kiprah baik rumah tangga, pekerjaan, dan persyarikatan Muhammadiyah.

 

            Budhe Yati lahir di Singosaren, Kota Yogyakarta pada 21 Maret 1942. Perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Mu’allimat Yogyakarta ini selain aktif berkegiatan di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, juga menjadi pengusaha roti dan pedagang kelontong. Kepiawaiannya dalam kehidupan turut membantu gerak langkah Ranting Muhammadiyah Kadipiro. Dalam pemberdayaan masyarakat, beliau dikenal sebagai motor penggerak ibu-ibu baik secara umum maupun keagaaman. Kegiatan lain sebagai istri seorang guru Muhammadiyah juga membuatnya tak luput dari aktivitas dalam pengelolaan pendidikan seperti turut membantu di asrama SPG Muhammadiyah 1 Yogyakarta atau kini Asrama “Siti Chodijah” SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta.

 

  

Ibu Siti Nuryati atau Budhe Yati (kiri) dan H. Tubin Sakiman atau Pakde Sakiman (kanan)

 

            Terakhir, Pakde Sakiman yang lahir di Kaliduren, Moyudan, Sleman, Yogyakarta pada 1 Januari 1935. Tumbuh berkembang di wilayah yang mayoritas warga Muhammadiyah baik secara struktural maupun kultural tentu banyak mempengaruhi sosok yang kelak menjadi nahkoda Muhammadiyah baik dari Pedukuhan Kadipiro hingga Kabupaten Bantul. Pendidikan pertamanya didapatkan dari donatur Katolik di Sekolah Rakyat Kanisius Klepu, Sleman (sekarang SD Kanisius Klepu) dan hidup dengan orang tua Islam-Kejawen. Beliau juga bercerita bahwa dahulu ketika bersama keluarga donatur Katolik maka akan bertindak secara Katolik baik secara sosial maupun ritual, kemudian menjadi Islam ketika pergi dari keluarga tersebut. Kakaknya yang bernama Muhadi (Pak Muh) dan teman-teman di sekitarnya juga berlaku demikian namun Pakde Sakiman dan Pak Muh kemudian mengenyam pendidikan lanjutan di Sekolah Pendidikan Guru Agama Atas Negeri 1 Yogyakarta sehingga akidahnya terselamatkan.

 

            Bersekolah di lingkungan Katolik tentu melihat keadaan pada zaman tersebut. Kekurangan biaya, fasilitas pendidikan yang minim, dan jalan kesuksesan hanyalah sekolah maka pilihan tersebut sangatlah bijak. Pakde Sakiman dan Pak Muh memang “kembali” kepada Islam secara utuh namun ada beberapa saudaranya yang memilih menjadi Katolik sejati sebagai bentuk penghormatan atas jasa donatur namun itu semua dapat disikapi secara toleran. Setelah lulus dari SPGAA Negeri 1 Yogyakarta pada tahun 1956, Pakde Sakiman kemudian menjadi guru di Sekolah Rakyat Negeri Sambas, Kalimantan Barat dari tahun 1956-1962 sedangkan Pak Muh menjadi guru kemudian kepala sekolah dan terakhir pengawas di Yogyakarta. Cerita menarik ketika di Sambas selain mandi di sungai, beliau juga turut mengajar bahasa Inggris bagi biarawati-biarawati kemudian menyambut kedatangan Perdana Menteri Burhanudin Harahap. Setelah kembali ke Yogyakarta, beliau pun ditempatkan untuk mengajar SLTP (sekarang SMP) di Sleman, dipindahkan ke Bantul, dan terakhir mengajar di SPG Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta.

 

  

STTB Mbah Sakiman dari SR Canisioes Klepoe (kiri)  dan Foto Pakde Sakiman (tanda hijau) ketika menyambut kedatangan Perdana Menteri Burhanudin Harahap (tanda merah) di Kalimantan Barat.

 

            Kiprah Ranting Muhammadiyah Kadipiro sebenarnya tidak begitu baru di wilayah tersebut. Dalam website resmi Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kasihan, gerakan Muhammadiyah telah masuk ke wilayah Kasihan pada 1923 namun tak ada bukti tertulis dari manakah dimulainya Muhammadiyah Kasihan. Tahun tersebut apabila diverifikasi maka logis karena Muhammadiyah secara akar rumput mulai berkembang di Bantul pada 1921 dengan berdirinya gerombolan atau group (sekarang ranting) Srandakan dan Imogiri. Seiring berjalannya waktu, dikeluarkanlah Surat Ketetapan nomor 1374/B. tanggal 6 September 1958 dari Pengurus Muhammadiyah Cabang Kota Yogyakarta berisi menetapkan dan mengakui secara sah Ranting Muhammadiyah Kadipiro.

 

            Posisi Ranting Muhammadiyah Kadipiro yang berada di Bantul namun berdiri dengan Surat Keputusan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kota Yogyakarta karena Cabang Bantul (atau kini dikenal Pimpinan Daerah Muhammadiyah) belum berdiri. Menurut penelitian skripsi Yudia Wahyudi yang berjudul Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul 1965-1999, Muhammadiyah Cabang Bantul baru mulai dirintis tahun 1965 sedangkan Ranting Muhammadiyah Kadipiro disahkan pendiriannya pada 6 September 1958. Maka dari itu, jarak geografis yang tidak jauh dengan Kota Yogyakarta membuat Ranting Muhammadiyah Kadipiro menginduk pada Cabang Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

 

  

SK pendirian Muhammadiyah Kadipiro (kiri) dan bekas kantor Ranting Muhammadiyah Kadipiro (kanan)

 

            Rumah di Jl. Wates No. 35 KM 2 Pedukuhan Kadipiro, Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut adalah saksi bisu perintisan Ranting Muhammadiyah Kadipiro. Sebelum berdiri kepengurusan secara resmi, bangunan tua yang dibeli dari bekas seorang seniman Kraton Yogyakarta tersebut pernah digunakan sebagai markas Palang Merah Indonesia. Pasalnya, Palang Merah Indonesia meminjam sebagian rumah itu ketika terjadi Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta 1948-1949. Setelah Indonesia dan Belanda selesai dengan Konferensi Meja Bundar 1949 kemudian Yogyakarta menjadi aman maka kembalilah rumah ke fungsi awalnya sebagai hunian.

 

            Mbah Usman juga memiliki indekos untuk pelajar dan mahasiswa dari desa yang hendak menuntut ilmu di Kota Yogyakarta. Seorang lelaki desa yang tak lain adalah Pakde Sakiman membuatnya terpikat karena kebaikannya kemudian direstui menjadi menantu untuk putri keduanya, Budhe Yati. Kesamaan pemahaman, aktivitas sosial, dan sebagainya membuat Mbah Usman cocok untuk semakin bersyarikat di Muhammadiyah. Setelah Pakde Sakiman kembali ke Yogyakarta, disitulah Ranting Muhammadiyah Kadipiro mulai berkembang pesat dan melahirkan banyak “peninggalan sosial”.

 

            Pedukuhan Kadipiro sendiri merupakan salah satu daerah yang dipandang tidak baik oleh orang-orang di luar pedukuhan. Kriminalitas, perjudian, konsumen miras, hingga aktivitas pelacuran adalah kehidupan sehari-hari. Kala itu, Mbah Usman adalah salah satu dari beberapa orang yang memahami agama baik secara ritual dan sosial mulai tanggap dengan keadaan sekitarnya. Beliau tidak memulai dakwah dengan paksaan melainkan menunjukkan ketauladanan. Dirubahlah salah satu ruang di rumahnya untuk dijadikan semacam tempat ibadah. Walau kecil, namun sholat fardu dan sholat Jum’at berjamaah dapat didirikan sekitar tahun 1950-an seiring dengan berdirinya Ranting Muhammadiyah Kadipiro. Idul Qurban pertama juga diadakan di Kadipiro atas inisiasi Mbah Usman. Beliau membawa seekor kambing ke daerah Jagalan di Kota Yogyakarta untuk disembelih. Selesai disembelih, dibawalah pulang bersepeda dengan kerondo. Sesampai di rumah, dibagikan kepada warga sekitar rumahnya.

 

            Takbiran keliling yang semula tidak pernah ada maka diinisiasi oleh Mbah Usman terutama takbiran hari raya Idul Fitri. Melihat antusias anak-anak saat malam takbiran tersebut, beliau berinisiatif untuk memberikan uang “salam tempel” sebagai bentuk sedekah, apreasi, dan tradisi syawal. Kebiasaan membagikan uang untuk anak-anak tersebut tetap berlangsung hingga kini. Bahkan, orang tua yang dahulu ketika kecil mendapatkan uang tersebut merasa sangat senang dan memiliki kisah tersendiri yang membahagiakan. Sedikit demi sedikit, cahaya keimanan kepada Alloh SWT mulai tampak di Kadipiro dan sekitarnya dengan ditutupnya pelacuran bernama “Gedong Bentet” di Kadipiro dan mulai mereduksi aktivitas-aktivitas negatif lainnya secara perlahan.

 

            Gesekan politik pada rentang tahun 1960-an juga menjadi narasi sejarah yang tak terlupakan bagi Ranting Muhammadiyah Kadipiro. Pakde Sakiman adalah pengurus Partai Masyumi tingkat kelurahan dan pernah menjabat Dewan Perwakilan Rakyat Kalurahan-Gotong Royong ditambah sebagai pengurus Muhammadiyah. Praktis kelompok kiri yang kala itu “memilih” untuk berseberangan secara terang-terangan kerap menantang. Kantor Ranting Muhammadiyah Kadipiro tidak luput dari teror bahkan Pakde Sakiman ketika di rumah tidak pernah jauh dari parang dan pedang. Namun, keadaan tersebut dapat dikendalikan ketika keamanan dari Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) diperbantukan untuk mengamankan selama 24 jam. Mereka datang dari daerah seperti Kauman, Suronatan, Notoprajan, Ambarbinangun, dan sebagainya bahkan anggota TNI-AD dari Komando Distrik Militer (Kodim) Bantul turut membantu.

 

            Setelah gejolak politik 1960-an usai, Ranting Muhammadiyah Kadipiro pun merintis pemulihan hubungan dengan semua pihak. Tidak ada yang dibedakan dan semua dapat memberikan kontribusinya bagi Islam dan negara. Hal tersebut justru memicu perkembangan signifikan mulai tahun 1967 karena didirikan langgar kecil di tanah wakaf Mbah Usman dan Budhe Yati untuk memperkuat kegiatan keagamaan baik ritual maupun sosial. Kini, langgar tersebut telah berubah menjadi Masjid Ibrahim Kadipiro sejak direnovasi pada 1990-an dan diwakafkan tahun 1991. Tercatat, Mbah Usman telah mewakafkan dua tanah lain atas nama putra dan putri nya. Wakaf tanah untuk Masjid Nurul Huda di Singosaren atas nama Ahmad Usman dan Tjahjoto Wasidul tahun 1963 dan wakaf tanah untuk Masjid Labbaik di Sonopakis Kidul atas nama Ahmad Usman dan Siti Nuryati tahun 1991

 

  

Masjid Nurul Huda Singosaren (kiri) dan Masjid Labbaik Sonopakis Kidul (kanan)

 

            Terinspirasi perjuangan bapak mertua yang ulet dalam memberdayakan umat, Pakde Sakiman pun turut bergerak dengan caranya sendiri. Beliau menginisasi kelahiran beberapa masjid dan mushola baik yang ada di Pedukuhan Kadipiro maupun Kelurahan Ngestiharjo. 4 masjid dan 2 mushola yang ada di Pedukuhan Kadipiro pun tak lepas dari tangan ringannya. Membantu tetangga yang kesusahan memenuhi kebutuhan sembako kerap dilakukan sebagai wujud pelaksaan Surah Al-Maun. Beliau juga memiliki fonds sendiri agar anak-anak yang putus sekolah atau anak-anak nakal yang ia ketahui dapat bersekolah. Seorang laki-laki yang memilih jalan preman dan dekat dengan kalangan kiri bukan dijauhi oleh Pakde Sakiman tetapi dirangkul dan disekolahkan ke Mu’allimin Yogyakarta. Setelah lulus, ia dibenum di Kalimantan, mendapatkan jodoh perempuan Kalimantan, dan kembali ke Yogyakarta. Laki-laki tersebut mengaku kepada koleganya yang juga kolega Pakde Sakiman bahwa apabila ia tidak dirangkul Pakde Sakiman maka akan tetap menjadi preman.

 

            Pakde Sakiman pun juga mengembangkan relasi keorganisasian Muhammadiyah dari semua kalangan. Profesi Budhe Yati sebagai pengusaha roti membuat komunikasi dengan pengusaha-pengusaha Tionghoa Yogyakarta cukup intens sehingga mereka pun tidak segan untuk membantu beliau. Disamping itu, pengusaha kayu Katolik bernama Pak Cip dari Solo  dan pengusaha kayu Muslim bernama Pak Kasim dari Kalimantan yang sama-sama tinggal di Kadipiro turut serta mendukung geliat dakwah Pakde Sakiman. Membantu kayu-kayu untuk pembangunan masjid, mushola, dan fasilitas umum adalah gambaran sinergitas inklusif Ranting Muhammadiyah Kadipiro. Pak Sunardi Sahuri, seorang da’i terkenal Yogyakarta pun akrab dengan Pakde Sakiman hingga Pak Sunardi dipanggil “bodong” sebagai wujud keakraban dan Pakde Sakiman pernah ditawari menjadi pembimbing haji namun belum menerima tawaran tersebut hingga Pak Sunardi meninggal.

 

            Melihat keadaan masyarakat Kadipiro yang sudah mulai membaik, Pakde Sakiman pun memiliki ide untuk “menempatkan” anak-anak yang dulu disekolahkan maupun yang dibimbingnya ke beberapa titik di Kadipiro. Tujuannya selain sebagai “banteng dakwah” juga sebagai motor penggerak kegiatan. Hasilnya, banyak kegiatan yang lahir dari inisasi anak-anak tersebut baik keagamaan maupun sosial. Tercatat, Remaja Pecinta Masjid Kadipiro pernah didirikan hingga kegiatan keolahragaan seperti Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Kepiawaian Pakde Sakiman dalam memberdayakan masyarakat membuatnya turut dipercaya sebagai tokoh masyarakat dan memegang posisi di kepemimpinan akar rumput seperti ketua Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD). Tak heran apabila renovasi Lapangan Dasawarsa Kadipiro, beberapa jalan desa, lobi pembebasan lahan yang kemudian menjadi Lapangan SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta Unit Kadipiro, dan renovasi SPS PAUD Tanjung Kadipiro tidak lepas dari pengejawantahan jiwa solidaritas sosialnya.

 

            Kegiatan keagamaan yang berupa pengajian-pengajian masif dilakukan. Mulai dari pengajian anak-anak sebagai pelengkap kegiatan Taman Pendidikan Quran, pengajian ibu-ibu tanggal 17 setiap bulan, dan pengajian bapak-bapak tanggal 15 setiap bulan adalah hasil ide dasar seorang Pakde Sakiman. Tak hanya mengkaji ketuhanan, urusan sosial kemanusiaan pun juga disentuh. Pengajian yang identik dengan membahas ayat-ayat Alloh juga diejawantahkan dengan jaring pengaman sosial seperti santunan hingga simpan pinjam di pengajian Rabu kedua Masjid Ibrahim Kadipiro untuk kegiatan positif jamaahnya. Pakde Sakiman memang berdakwah dengan cara kultural namun justru melalui cara itulah, Islam dapat dipahami oleh siapa saja.

 

            Di luar kepengurusan Muhammadiyah, Pakde Sakiman juga turut andil dalam mempromosikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Posisi sebagai guru SPG Muhammadiyah 1 Yogyakarta yang dipinjam banguannya untuk perkuliahan UMY membuatnya dekat dengan perintis kampus baru tersebut. Keluwesan sosok ini dalam mencari mahasiswa baru dapat dilihat dari jawabannya ketika orang tua atau calon mahasiswa mempertanyakan kenapa ditawari kampus swasta. Jawaban singkat namun jelas dilontarkan Pakde Sakiman kepada mereka, “Wong Muhammadiyah ki yo sekolah e neng Muhammadiyah” (Orang Muhammadiyah itu sekolahnya ya di Muhammadiyah). Jawaban tersebut kemudian menimbulkan keyakinan yang mantap untuk menuntut ilmu di lembaga pendidikan milik persyarikatan Muhammadiyah. Setelah pensiun mengajar pada 1995, beliau lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai pendakwah masyarakat yang sudah digeluti sejak kembali ke Yogyakarta. Beliau juga menjadi tokoh masyarakat bahkan kerap dimintai pendapat oleh Idham Samawi yang kala itu menjabat Bupati Bantul.

 

Pakde Sakiman (duduk sebelah kanan baju putih tanpa kacamata) bersama teman-teman guru SPG Muhammadiyah 1 Yogyakarta

 

            Perjalanan kedua bagi Ranting Muhammadiyah Kadipiro dimulai dengan restrukturisasi kepengurusan. Ranting Muhammadiyah Kadipiro yang memulai debut sebagai rintisan kelahiran Muhammadiyah dari akar rumput telah selesai dan digantikan Ranting Muhammadiyah Ngestiharjo yang setingkat desa. Dari sebuah keiklasan untuk menggugah umat, Ranting Muhammadiyah Kadipiro hanya mengusir kabut hitam sehingga tidak mengusir siapapun yang tersesat di dalamnya sehingga dapat melihat pemandangan kemajuan umat setelah kabut itu pergi. Seorang yang berkiprah di Cabang Muhammadiyah Kasihan sejak lama pasti tidak asing dengan nama Pakde Sakiman sebagai sosok yang teguh dan selalu berada di garda terdepan untuk umat berkemajuan.

 

            Kini, Ranting Muhammadiyah Kadipiro telah menjadi embrio kelahiran ranting-ranting lain di wilayah Kasihan yaitu : Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Barat, Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Timur, Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Selatan, Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Utara, Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Tengah, Ranting Muhammadiyah Ngestiharjo Utara, Ranting Muhammadiyah Ngestiharjo Selatan, Ranting Muhammadiyah Ngestiharjo Tengah, Ranting Muhammadiyah Bangunjiwo Barat, Ranting Muhammadiyah Bangunjiwo Timur, Ranting Muhammadiyah Tamantirto Utara, dan Ranting Muhammadiyah Tamantirto Selatan.  Dibalik banyaknya ranting tersebut, ada sejarah panjang mengenai semangat Al-Maun untuk membentuk masyarakat yang berkemajuan.

 

 

 

REFERENSI

 

Karya Tulis

 

Hadjam Murusdi. 1995. Sejarah Singkat Berdirinya Muhammadiyah Kotamadia Yogyakarta. Yogyakarta : PDM Kotamadia Yogyakarta

 

Yudia Wahyudi. 2001. Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul 1965-1999. Skripsi. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga

 

 

Wawancara

 

1. Drs. Ahmad Riyatno (Putra ke-2 H. Tubin Sakiman)

2. Nur Masrini, S.E. (Putra ke-3 H. Tubin Sakiman)

3. Ahmad Fuad, B.A. (Keponakan H. Tubin Sakiman)

4. Listin Wahyuni, S.S. (Keponakan H. Tubin Sakiman)

5. Marsinem (Kakak Ipar H. Tubin Sakiman)


Tags: MENGUSIRKABUTHITAM , MuhammadiyahRantingKadipiro , FACHRODINAWARD2020 , MuhammadBintangAkbar

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website