Majelis Pustaka dan Informasi - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Pustaka dan Informasi
.: Home > Artikel

Homepage

Lailatulqadar dan Kesadaran Kosmos

.: Home > Artikel > Majelis
18 April 2023 21:19 WIB
Dibaca: 91
Penulis : Agung Y. Achmad

 

 

Memasuki malam-malam sepuluh hari terakhir di bulan ramadan, umat Islam lazim menggelar tradisi iktikaf di masjid atau musala untuk menyambut datangnya lailatulqadar. Sembari berkhalwat, para muktakif mengharapkan berkah, pahala dan ampunan Allah  di malam istimewa yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan itu.  

 

Lailatulqadar adalah malam ketika Allah SWT pertama kali menurunkan wahyu (ayat-ayat awal) Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW. Kaum muslimin meyakini lailatulqadar selalu datang di tiap penghujung ramadan betapapun hari H-nya tetap misteri. Beberapa hadis menyebutkan ciri-cirinya, misalnya langit cerah, angin berhembus lembut, matahari tampak seperti bulan, suhu udara siang hari tak panas dan tak dingin.

 

Mengapa rahasia lailatulqadar selalu dikaitkan dengan tanda-tanda alam? Mungkinkah lantaran Malam Seribu Bulan itu memuat pesan atau kode ilahiah terkait realitas kosmos? Dengan rendah hati, saya menyetujui anggapan tersebut. Bahwa kemuliaan manusia di depan Sang Pencipa mengandaikan kualitas relasi dengan alam semesta.

 

Realitas kosmos, meminjam Sayyed Hossein Nasr (1989),  adalah wahyu primordial yang memiliki neksus batin dan pengetahuan  suci  yang bersumber dari Realitas Tertinggi. Karena itu, rasanya relevan bila kaum muslimin memanfaatkan momentum iktikaf untuk menyegarkan kembali kesadaran tentang kosmos. Kesadaran kosmos dalam relasi manusia-alam semesta-Tuhan pada konteks modern tidak lain adalah sains. Sains yang tidak bebas nilai. 

 

Seperti semua mafhum, tatanan global saat ini dibangun di atas sains Barat yang bebas nilai. Di satu sisi sains memiliki andil sangat besar dan positif dalam membangun peradaban manusia. Namun di sisi lain,   sains bebas nilai juga merupakan biang dari krisis etika-moral, ekologis dan kemanusiaan dalam tatanan global saat ini.  

 

Wahyu primordial 

Kesadaran kosmos adalah pengetahuan tentang realitas dan hakikat penciptaan alam semesta. Bahwa tidak satu peristiwa penciptaan pun di jagat raya ini terjadi dengan sendirinya melainkan memiliki tujuan jelas serta berlangsung dalam sistem yang sangat sempurna sebagai wujud kehendak entitas tunggal: Allah. 

 

Studi kosmologi mengonfirmasi bahwa mekanisme kosmos bekerja dalam suatu sistem super kompleks dengan ketelitian sangat tinggi terutama karena didukung banyak tetapan yang saling berkelindan sedemikian rupa. Sehingga, seperti pernah disimulasikan sejumlah ilmuan, dengan mengubah sedikit tetapan gravitasi pada realitas kosmos, umpamanya, alam semesta hanya akan berusia 100 ribu tahun (dihitung sejak big bang). Rentang waktu tersebut, seperti pernah diungkapkan Karlina Supelli di Teater Salihara, 18 Juni 2016,  mustahil bagi mekanisme kosmos untuk melahirkan alam semesta sesempurna sekarang. 

 

Sistem kosmoslah yang memungkinkan bumi (berusia 4,5 miliar tahun) kini ada. Bahkan planet  biru ini telah melahirkan kehidupan paling fenomenal di jagat raya: peradaban manusia! 

 

Sementara itu, manusia pertama Adam diperkirakan hidup pada 70 ribu tahun silam. Konon, kehadiran tiba-tiba manusia ini bikin gemas Nicolaus Copernicus dengan berseloroh: Siapa sih manusia? Tidak ada di pusat kosmos! 

 

Meskipun paling yunior dalam sistem kosmos, manusia memiliki keunggulan ‘primordial’. Dalam pandangan Islam, manusia pertama diciptakan dari tanah. Sementara secara sains, tanah (bumi) memiliki hampir semua unsur yang ada di jagat raya, seperti oksigen, silikon, aluminium, besi, kalsium, natrium, magnesium, air, kalium dan seterusnya. Karena itu, manusia diyakini sebagai mikrokosmos dari jagat raya. Peradaban-peradaban besar memiliki pandangan yang kurang lebih sama. Dalam budaya Jawa, misalnya, konsep mikrokosmos dikenal dengan istilah hamemayu hayuning bawana

 

Al-Quran menjelaskan keberadaan manusia melalui beberapa fragmen, antara lain: Adam diciptakan dari saripati tanah (Q.S Al Mu’minun: 12); Manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk  (Q.S Al Mu’minun: 14; At Tin: 4); Bumi tempat menetap manusia (Q.S Ghaafir: 64).  Atribusi manusia sebagai  mikrokosmos tersirat pada penunjukan Adam sebagai khalifah di muka bumi (Q.S Al Baqarah: 30).  

 

Kutipan wahyu di atas seolah mengonfirmasi bahwa agenda paripurna sistem kosmos adalah ‘melahirkan’ manusia. Bahkan makhluk ini digadang-gadang Tuhan untuk dapat menjelaskan identitas diri-Nya. Bukankah dalam sebuah hadist qudsi Allah berfirman: "Aku pada mulanya adalah aset tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal maka Kuciptakanlah makhluk dan melalui Aku mereka pun mengenali-Ku”? 

 

Adam terbukti menjadi juru bicara Allah karena tidak ada makhluk bumi yang melampaui kemampuan linguistik dan berpikir logis sebaik manusia. Lantaran itu, Adam selayaknya dibaca sebagai entitas biologis yang  sejak awal hidup di bumi alias merupakan bagian tak terpisahkan dari mekanisme kosmos—wujud kehendak Ilahi. 

 

Dalam konteks itu, pandangan Yuval Noah Harari (2017) tentang Homo sapiens,  satu-satunya spesies di bumi yang berhasil melampaui revolusi kognitif pada 70 ribu tahun silam, yang memungkinkan mereka dapat berbahasa dengan baik, dapat dipinjam sebagai kaca mata analisis untuk memahami skenario Tuhan dalam menghadirkan manusia pada tatanan kosmos ini. Dalam logika sederhana, pertanyaannya: di mana signifikansi (kepentingan Allah) untuk menghadirkan Adam dari surga ke bumi sementara mekanisme kosmos adalah sistem ilahiah yang sangat sempurna--teratur, pasti, tanpa cacat sedikit pun dan berkelanjutan?

 

Memang, problemnya tidak sesederhana itu. Mayoritas kaum muslimin, seperti juga agama-agama monoteistik, meyakini Adam diciptakan di surga. Pandangan semacam itu umumnya lahir dari pembacaan literal-tekstualistik kitab suci. 

 

Apa pun pandangan iman kita rasanya tidak elok bila meremehkan kesempurnaan sistem kosmologi yang, untuk sementara, kita sebut sebagai sunatullah itu. Bolehkah manusia beriman menolak sunnatullah--walau sebagian? Ini bukan semata tentang Adam didatangkan dari surga atau produk kosmos di bumi, tetapi berkaitan dengan tugas para intelektual untuk membangun epistemologi komprehensif yang mampu melahirkan sains yang sekaligus dapat diterima nalar iman. 

 

Sains berbasis wahyu

Sains Barat selama ini memang tidak sempurna. Masalahnya, dunia Islam tidak menawarkan argumen alternatif secara memadai terhadap teori-teori sains mapan. 

 

Dunia Islam tak mengenal dikotomi ilmu dan keyakinan/tauhid. Sains dalam Islam tidak bebas nilai.  Untuk suatu ihktiar panjang menghadirkan sains yang tidak bebas nilai itu, di era modern, nama Kuntowijoyo tak dapat dipandang remeh. Ia manawarkan metode integrasi sains dan wahyu (Quran). Gagasan yang sekaligus mengoreksi ide islamisasi sains Ismail Al Faruqi itu mampu merangsang banyak sarjana untuk mengembangkan model-model teoretis dan metodologis yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman ke dalam ilmu pengetahuan modern (ilmu sosial, sains alam, dan teknologi), paling tidak dalam beberapa dekade lalu. 

 

Belakangan, gagasan senada dikembangkan Agus Purwanto—guru besar bidang fisika teori Universitas Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya— melalui ide sains berbasis wahyu. Melalui dua bukunya: Ayat-Ayat Semesta (2008) dan Nalar Ayat-Ayat Semesta (2015), ia menawarkan pendekatan analisis teks (wahyu) terkait ayat-ayat semesta dalam Al-Quran yang dalam catatannya berjumlah 800 ayat/konteks. Pendekatan ini lalu diperkuat dengan observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena alam. 

 

Tak diragukan, Al-Quran memuat sangat banyak ayat tentang fenomena kosmos, selain perintah kepada manusia untuk menggunakan akalnya. Allah bahkan kerap bersumpah atas nama makhluk-makhluk ciptaan-Nya seperti matahari, bulan, waktu, gunung dan seterusnya. Al-Quran, dengan demikian,  memiliki sistem gagasan tentang kesadaran kosmos yang sangat kaya. 

 

Inilah saatnya bagi dunia Islam untuk menawarkan sains berbasis wahyu demi tata kelola dunia yang selaras dengan khazanah kosmos.  Bukankah Islam adalah agama rahmatan lil”alamin

 

Penulis adalah peminat kajian Islam dan sains, kader Muhammadiyah, tinggal di Lasem, Jawa Tengah

 

 

Sumber tulisan:
Solopos, 17 April 2023

Telah dimuat juga di:
https://www.solopos.com/lailatulqadar-dan-kesadaran-kosmos-1603620?utm_source=terkini_desktop

 

Tags: Muhammadiyah , Puasa , KesadaranKosmos
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori : Wawasan Ramadhan

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website