cool hit counter

Majelis Pustaka dan Informasi - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Pustaka dan Informasi
.: Home > Artikel

Homepage

Kopdarnas Penggiat Literasi: JIHAD LITERASI - MENGGELORAKAN GERAKAN LITERASI SEKOLAH

.: Home > Artikel > Majelis
09 Desember 2017 23:05 WIB
Dibaca: 388
Penulis : -Arif Jamali Muis

Image result for literasi sma muhammadiyah 3 yogyakarta

 

 

Data beberapa survai tentang literasi di Indonesia mencengangkan sekaligus memprihatinkan.  Data UNESCO tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001, itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 88,1 juta pada 2014. Penelitian UNESCO mengenai minat baca pada tahun 2014 lagi-lagi menyebutkan bahwa anak-anak Indonesia membaca hanya 27 halaman buku dalam satu tahun, bisa dibayangkang betapa sedikit sekali yang dibaca oleh anak-anak kita. Pemeringkatan terbaru, menurut data World's Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, peringkat literasi kita berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti! Indonesia hanya lebih baik dari Bostwana, negara di kawasan selatan Afrika, yang kita jarang sekali mendengar nama negara itu. survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia, yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2012. Dikatakan, hanya 17,66% anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca. Sementara, yang memiliki minat menonton mencapai 91,67%.

 

Data-data diatas saya tampilkan untuk menunjukkan betapa sangat memprihatinkan minat membaca generasi muda bangsa ini, padahal sejarah mencatat kemajuan suatu bangsa karena budaya literasi bangsa tersebut baik. Dampak rendahnya budaya literasi, kita sering termakan berita hoax yang menyesatkan, kadang tanpa perlu konfermasi dan kesahihan berita tersebut dengan sangat mudah kita menyebarkannya, akibatnya kegaduhan, keresahan menjalarkan di masyarakat, banyak energi positif bangsa ini terbuang hanya gara-gara berita hoax. Disisi lain rendahnya minat baca dan menulis di masyarakat kita kadang menyebabkan mudahnya aroma kebencian menyebar, saling menuduh, budaya tabayun dan saling membagi informasi hampir tidak ada. Manusia yang tidak membaca tentu mempunyai keterbatasan informasi dan cakrawala dalam memandang persoalan, sehingga cara berfikirnya picik dan sempit. Betapa akut dan bahaya akibat dari rendahnya budaya baca dan menulis. Bangsa Indonesia tidak akan maju jika tidak ada gerakan yang menggelorakan literasi.

 

 

Jihad Literasi

 

Mengapa harus jihad? Problem literasi sudah sangat akut dan berdampak luas bagi masa depan bangsa ini, menyelesaikannya tidak bisa dengan biasa-biasa saja. Harus ada kesungguhan dan kesadaran dari setiap elemen bangsa. Kesungguhan inilah yang saya maksud Jihad. Harus ada upaya yang memaksa generasi muda kita (siswa/mahasiswa) untuk membaca, tidak mudah mungkin tetapi jika kita paksa membaca, tentu dengan sistem pendidikan yang baik dan suatu saat menjadi kebiasaan maka budaya literasi akan terbentuk digenerasi muda kita. Ada minimal tiga institusi/lembaga yang bisa menggelorakan budaya literasi generasi muda kita: pertama, keluarga. Orang tua harus mulai mendidik anak-anaknya dengan budaya literasi yang baik dirumah, kenalkan buku-buku sejak kecil kepada anak-anak kita, ciptakan di rumah suasana membaca, tentu tidak bisa kita meminta anak-anak membaca tetapi orang tua malah menonton sinetron, perbanyak buku-buku bacaan dirumah sehingga anak-anak terbiasa melihat buku, dan ajak anak-anak ke toko buku, ajarkan kepada anak-anak kita ke toko buku adalah refreshing. Menciptakan budaya literasi dirumah butuh kesadaran orang tua, dan ini semua demi masa depan anak-anak kita.

 

Kedua, sekolah. Lembaga pendidikan harus wajib menerapkan program literasi sekolah, setiap pagi peserta didik diwajibkan selama 10 menit membaca buku bacaan diluar buku pelajaran, dan kemudian menuliskan seberapapun hasil yang dibaca kedalam bahasa mereka sendiri. Bayangkan jika anak-anak selama 10 menit membaca satu sampai dua halaman buku sehari, selama satu bulan mereka bisa membaca 20 sampai dengan 30 halaman, dan selama satu semester peserta didik ada yang sudah membaca satu buku. Jika ini diterapkan dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh sekolahan sebagai bagian dari program wajib maka bukan tidak mungkin anak-anak kita akan tumbuh budaya literasinya. Program literasi ini juga bisa diintegrasikan dalam mata pelajaran, dan untuk itu tentu membutuhkan guru-guru yang punya budaya literasi yang baik.

 

Ketiga, pemerintah. Dalam hal ini kemendikbud harus membuat program-program yang menjadikan budaya literasi muncul di lembaga-lembaga pendidikan. Kuncurkan dana untuk subsidi buku non pelajaran, Kartu Indonesia Pintar (KIP) harus bisa digunakan untuk membeli buku murah bagi siswa. Perbaiki perpustakaan-perpustakaan sekolah, latihan dan didik guru-guru sehingga muncul juga budaya literasi dikalangan guru.

 

Jika institusi keluarga, sekolah dan pemerintah berjihad (bersungguh-sungguh) dalam budaya literasi ini, generasi emas dengan bonus demografinya akan menjadi generasi yang punya wawasan dan cakrawala yang luas, yang bisa membawa bangsa ini menuju keperadaban yang utama. Walahualam Bishowab.

 

 

Arif Jamali Muis

Guru SMA Muhammadiyah 3 Yogyakartadan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

 


Tags: JihadLiterasi , KopdarnasPenggiatLiterasi , ArifJamaliMuis

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website