cool hit counter

Majelis Pustaka dan Informasi - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Pustaka dan Informasi
.: Home > Artikel

Homepage

Catatan atas Perhelatan #KopdarnasLiterasi Muhammadiyah

.: Home > Artikel > Majelis
07 Desember 2017 20:04 WIB
Dibaca: 54
Penulis : Fauzan A Sandiah

 

 
 
Kalau melihat bahwa akhir-akhir ini inisiasi literasi makin bertumbuh subur di mana saja, tentu saja selain karena semua jejaring kolaborasi semakin mudah bertemu di dunia maya, juga karena kita sendiri mulai bosan dengan hal-hal yang dangkal. Tetapi, Baez, seorang penulis sejarah tentang penghancuran buku, di bagian akhir bukunya berkata secara misterius, bahwa semua kegiatan manusia di abad ini yang melibatkan teknologi akan mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir. Ketika manusia berpikir melalui tulisan, dia menciptakan sebuah peradaban penyimpanan memori bernama perpustakaan. Bahkan keping compact disc hingga media penyimpanan online beroperasi menggunakan algoritma. gawai untuk mengakses perpustakaan digital juga berfungsi melalui dasar-dasar numerikal. nyaris semuanya tentang simbol, di mana huruf dan angka adalah bagian pentingnya. Tampaknya, hingga  manusia menemukan mode lain pengganti simbol, maka huruf tidak akan bisa dimusnahkan.
 
Daripada terjebak pada pesimis atau optimis mengenai masa depan buku, Baez menunjukkan pada kita bahwa satu-satunya konflik manusia dengan buku justru karena manusia sendiri tidak siap dengan apa yang mampu buku lakukan untuk manusia. Raja-raja dan pemimpin politik yang terlibat dalam skandal pembakaran buku, penghancuran perpustakaan, penyembunyian naskah-naskah kuno, dan terorisme atas buku serta penulis, menjadi aib terbesar manusia selain penghancuran ekologi. Heinrich Heine ketika menulis dialog antara Al-Mansur dan Hasan, mengutip satu pernyataan Hasan yang sangat populer, "siapa saja yang membakar buku, pada akhirnya mampu membakar manusia".
 
 
Kopdarnas Literasi ala Muhammadiyah 
 
Diperlukan sekian banyak usaha untuk merayakan apresiasi atas relasi manusia dengan literasi. Dominguez menulis, buku memang mengubah takdir manusia, tetapi manusia juga bisa mengubah takdir buku. Jika selama ini manusia menakdirkan buku lapuk dimakan rayap atau jadi abu dibakar api, maka saatnya takdir buku yang diciptakan manusia adalah sebuah takdir tentang perlakuan yang lebih adil atas buku. Perlakuan manusia terhadap buku sebagai material merepresentasikan secara proyektif apa yang mampu dilakukan manusia terhadap alam. Orang-orang yang membenci buku, berpotensi merusak apa saja. Ray Badbury dalam salah-satu fiksinya, "Fahrenheit 451" meramalkan bahwa di masa depan buku akan dianggap sebagai sumber dari segala konflik sosial. Umberto Eco dalam kisah fiksi berjudul "The Name of the Rose" menggambarkan bagaimana sebuah buku dianggap menjadi ancaman bagi akal manusia. Kejadian di dunia nyata tampaknya sama mengecewakan, justru ketika buku digunakan sebagai media penyimpan bom. Lebih konyol lagi pembunuhan yang dilakukan terhadap penerjemah karya-karya yang dianggap terlarang. Semakin konyolnya karena di beberapa negara undang-undang dibuat khusus untuk menangkal bahaya buku. 
 
Tapi kita masih beruntung karena masih ada naskah-naskah yang mampu melewati masa-masa tragis di mana dirinya seharusnya sudah lenyap dimakan amarah manusia. naskah-naskah itu justru sekarang menentukan banyak hal, dan memberi petunjuk penting apa yang seharusnya dilakukan manusia. 
 
Letak penting mengapresiasi para penggiat buku, di mana mereka terdiri atas komunitas literasi, penerbit independen, dan orang-orang yang menyalakan hasrat menjaga pengetahuan adalah bahwa ini tidak sekedar buku dan literasi. Juga tidak dalam rangka meningkatkan minat baca, atau mengejar ketertinggalan dalam indeks literasi. Ini semua melampaui itu. Manusia punya aib memusuhi pengetahuan yang harus dipelajari, demi menyelematkan apa-apa yang berharga dari kehidupan kita semua. Sebelum semuanya terlampau terlambat untuk disesalkan. 
 
Kopdarnas Literasi yang diselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah adalah suatu cara merefleksikan relasi kita dengan makna, sejarah, dan keadilan peradaban manusia sendiri terhadap sistem kehidupan yang lebih luas. Kopdarnas mempertemukan para penggiat buku lengkap dengan inisiasi-inisiasi yang selama ini mereka kerjakan. Tujuannya sederhana, bagaimana menjaga semua inisiasi ini menemukan konteksnya di dalam hubungan sosial dan ekologi manusia. 
 
Kopdarnas Literasi Muhammadiyah 2017 melibatkan lebih dari 300 orang, terdiri dari 70 partisipan berbasis komunitas literasi yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, 200 partisipan sesi seminar, dan partisipan swadaya yang sulit dihitung jumlahnya. Kopdarnas ini diselenggarakan secara efisien dengan agenda-agenda perbincangan perbukuan, penerbitan, media, dan saya kira pada akhirnya bermaksud mendorong negara untuk mensubsidi buku murah daripada sekedar menganggarkan sekian triliyun untuk pembangunan yang selama ini menjadi momok ukuran berhasil atau tidaknya suatu rezim. Kebijakan kirim buku gratis yang dibiayai negara setiap tanggal 17 itu selain bermakna kemerdekaan juga turut memberi harapan besar bagi aksesibilitas buku. Hingga detik ini, euforia mengirim buku menjadi suatu catatan yang cukup baik. Di tengah situasi awal ini, indeks literasi menjadi kurang menarik dibahas. Ada banyak yang perlu diramaikan, mulai dari hadirnya penerbit-penerbit yang berkomitmen terhadap wacana pengetahuan dan kerja-kerja penerjemahan yang membantu setiap kebudayaan bertemu secara lebih menarik dan reflektif. 
 
Kopdarnas adalah suatu cara lain untuk merayakan kembali literasi di Muhammadiyah, dan suatu kebanggaan bahwa ini dibiayai sendiri oleh Muhammadiyah. Literasi harus berangkat dari perasaan otonom dan hasrat bekerja dengan kekuatan yang dimiliki, tanpa perlu merepotkan negara. Sependek yang saya ketahui, ini adalah kesekian kalinya musyawarah buku yang mampu diselenggarakan secara mandiri sehingga mampu membawa terang pada akhir tahun ini. 
 
 
Yogyakarta, KHA. Dahlan Nomor 103
 
 
 
Fauzan A Sandiah, pegiat literasi di RumahBacaKomunitas.org, alumni Pimpinan Pusat IPM.

Tags: CatatnPerhelatanKopdarnasPenggiatLiterasiMuhammadiyah , FauzanASandiah

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website