Berita : Majelis Pustaka dan Informasi


Republika dan UAD Perkuat Kerja Sama

Selasa, 22-10-2019

Foto: REPUBLIKA BERSILATURAHIM KE UAD. Republika Perwakilan DIY-Jawa Tengah bersilaturahim ke Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Senin (21/10). Tim Republika yang dipimpin oleh Kepala Perwakilan DIY-Jateng Hariyadi Bambang Susanto (kiri), disambut oleh Rektor UAD, Muchlas, yang baru dilantik beberapa waktu lalu.

 

o SILVY DIAN SETIAWAN

 

REPUBLIKA | YOGYAKARTA  | Selasa 22 Oktober 2019 — Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Republika berkomitmen untuk memperkuat dan memperluas kerja sama. Selama ini, kerja sama kedua institusi telah terjalin dengan baik.

 

"Kerja sama akan terus kita tingkatkan, terutama dengan Republika. Republika ini kalau ibarat teman di media sosial itu yang close friend," kata Rektor UAD, Muchlas, saat Republika Perwakilan DIY-Jawa Tengah bersilaturahim ke UAD, Yogyakarta, Senin (22/10).

 

Muchlas merupakan Rektor UAD periode 2019-2023.Ia dilantik menggantikan rektor sebelumnya yakni Kasiyarno pada Rabu (9/10) lalu. Muchlas mengatakan, selama menjadi Rektor UAD, ia berkomitmen untuk terus memajukan UAD. Bahkan, kesejahteraan Sumber Daya Manusianya (SDM) juga akan terus ditingkatkan.

 

Untuk itu melalui kerja sama dengan Republika, merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut.Ia berkeinginan, akademisi di UAD dapat berkontribusi bagi bangsa melalui kerja sama ini.

 

Ia memiliki keinginan agar akademisi terutama dosen UAD untuk dapat mengikuti pelatihan jurnalistik. Baik itu terkait penelitian maupun menyikapiisu-isuyang tengahdibahas dan diselesaikan di Indonesia. "Dulu ada juga pelatihan jurnalistik.Itu bisa ditingkatkan," ujarnya.

 

Alasan kenapa ia menginginkan dosen untuk menulis di media massa, karena kurangnya kemauan dosen untuk menulis di media massa. Padahal, dari tulisan-tulisan tersebut, dapat meningkatkan kompetensi dosen itu sendiri.

 

Bahkan, dari berbagai tulisan yang dihasilkan tersebut diharapkan dapat menjadi solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Dengan begitu, dosen itu pun telah berkontribusi untuk negara.

 

Hal ini juga dapat menjadikan dosen tersebut untuk lebih kritis dalam isu-isu penting yang saat ini harus diselesaikan. Selain itu, juga dapat mengeluarkan dosen dari zona nyamannya untuk menjadi seseorang yang kritis dan lebih peduli terhadap permasalahan bangsa. "Kita prihatin, kita ingin dosen-dosen kita itu punya sense of crisis. Apa yang bisa disumbangkan untuk negara. Kalau bukan melalui penelitian, ya punya kepedulian terhadap isu-isu apa yang saat ini sedang dibicarakan," katanya.

 

Ia menjelaskan, kurangnya sense of crisis ini karena dosen yang sulit untuk pindah dari zona nyaman itu sendiri. "Mereka kemudian tidak berpikir dari sisi kelembagaan bahwa saya butuh karya tulis mereka. Melahirkan kualifikasi mereka, butuh kenaikan jabatan akademik mereka," kata Muchlas.

 

Muchlas mengaku, tentu hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Hal ini harus ada dukungan dari seluruh pihak termasuk akademisi tersebut untuk menuju perubahan yang lebih baik. "Ini tidak gampang, penelitian sehari-hari saja tidak gampang. Harus ada perubahan yang agak fundamental pada strategi akuisisi penulis," ujarnya.

 

Terlebih, saat ini merupakan era post truth. Di era ini, informasi atau berita palsu atau hoaks sering kali beredar di masyarakat. Bahkan, semakin sulit untuk memastikan mana berita benar dan mana berita bohong. ■ ed: fernan rahadi