cool hit counter

Majelis Pustaka dan Informasi - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Pustaka dan Informasi
.: Home > Artikel

Homepage

UNISA: DARI SEKOLAH MENENGAH MENJADI UNIVERSITAS ‘AISYIYAH

.: Home > Artikel > Majelis
08 November 2017 21:55 WIB
Dibaca: 189
Penulis : Riswinarno

 

 

PENDIDIKAN KESEHATAN ‘AISYIYAH

 

‘Aisyiyah sebagai organisasi gerakan sosial keagamaan, memiliki kiprah yang positif dan dinamis di tengah-tengah masyarakat. Bergerak di berbagai aspek kehidupan masyarakat utamanya perempuan dan anak-anak. Dalam bidang pendidikan, bersama Muhammadiyah sebagai induk organisasi ‘Aisyiyah, tidak pernah henti melanjutkan rintisan Nyai Ahmad Dahlan dalam mencerdaskan perempuan dan anak-anak, memberdayakan sektor perempuan melalui beragam aspek kehidupan, meningkatkan taraf hidup dan kesehatan perempuan dan anak-anak.

 

Dalam bidang pendidikan, ‘Aisyiyah membentuk umat yang berkualitas, menyiapkan generasi yang cerdas. Secara non formal mendidik anak-anak melalui peran perempuan sejak masih dalam kandungan sampai usia dewasa. Secara formal mendirikan lembaga pendidikan sejak dari pendidikan anak usia dini sampai perguruan tinggi. Berdirinya lembaga pendidikan tinggi ‘Aisyiyah telah ditempuh dan ditempa dalam waktu panjang yang penuh jenjang.

 

Meningkatnya pelayanan kesehatan ibu dan anak, juga pelatihan-pelatihan disusul dengan dibukanya klinik dan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). ‘Aisyiyah sebagai organisasi sosial keagamaan yang sangat fokus pada masalah yang sama, telah memiliki pula klinik dan layanan kesehatan ibu dan anakyang disebut Badan Kebidanan Islam ‘Aisyiyah. Namun, muncul beberapa permasalahan dan pemikiran ketika tenaga bidan dan perawat itu lulusan dari institusi di luar persyarikatan. Atas dasar inilah dan diawali dengan mengemban amanah, hasil keputusan Muktamar ‘Aisyiyah yang ke-35 di Jakarta tahun 1963, didirikanlah Sekolah Bidan ‘Aisyiyah Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Berlandaskan Surat Lukman: 14, Surat Al Ahqaaf: 15, Urusan Pengajaran PP ‘Aisyiyah membuka SKP, SKKA, SPG TK juga Pendidikan Bidan.

 

Pada Mukatamar ‘Aisyiyah XXXVIII di Makasar tahun 1974, Bagian Pendidikan dan Pengajaran mengembalikan mandatnya kepada PP ‘Aisyiyah tentang tanggung jawab pengelolaan Pendidikan Bidan di Yogyakarta. Pengembalian mandat ini dilakukan oleh karena terjadinya perluasan tanggungjawab dan pengelolaan, yang semula hanya mengurusi Sekolah Bidan beserta asramanya, menjadi seluruh Sekolah Bidan se-Indonesia. Mempertimbangkan banyaknya jumlah sekolah kesehatan baik perawat maupun bidan di berbagai wilayah Indonesia, maka pada tahun 1974 Bagian Pendidikan Bidan diganti menjadi Bagian Pendidikan Paramedis.

 

‘Aisyiyah menetapkan tujuan pokok penyelenggaraan Sekolah Bidan ‘Aisyiyah adalah:

1.        Menghasilkan tenaga paramedis yang terampil dalam profesinya

2.        Memiliki motivasi yang tangguh sebagai muballighat dalam profesinya.

 

Sebagai bentuk dukungan untuk mewujdukan tujuan tersebut, maka Bagian Pendidikan Paramedis melengkapi strukturnya dengan membentuk:

a.        Seksi Pendidikan dengan tugas untuk memikirkan tentang pengelolaan pendidikan dengan selalu mengacu kepada peraturan-peraturan yang berlaku baik yang dikeluarkan oleh Pemerintah (Departemen Kesehatan) maupun yang dikeluarkan oleh organisasi

b.        Seksi Asrama bertugas menyelenggarakan fasilitas pendidikan terutama dalam menyiapkan peserta didik menjadi kader dan muballighat ‘Aisyiyah

c.         Seksi Penempatan bertugas menempatkan lulusan Pendidikan Kesehatan dan memantau kemajuan alumni.

 

Semua lulusan Pendidikan Tenaga Kesehatan di lingkungan ‘Aisyiyah, sebelum mengabdikan diri di pemerintah atau rumah sakit, diwajibkan melaksanakan masa bakti di tempat-tempat yang ditentukan oleh Pimpinan ‘Aisyiyah. Pengabdian ini minimal selama 2 tahun di BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak ‘Aisyiah), Rumah Sakit, Rumah Bersalin milik ‘Aisyiyah.

 

Dari sinilah sejarah panjang berdirinya Universitas ‘Aisyiyah (UNISA), universitas pertama milik ‘Aisyiyah digoreskan ceritanya. ‘Aisyiyah ikut mewarnai sejarah panjang keperawatan dan kebidanan di Indonesia, juga dunia.

 

 

SEKOLAH BIDAN AISYIYAH (1963-1974)

 

Pendidikan Tenaga Kesehatan ‘Aisyiyah disepakati dibuka sebagaikeputusan Muktamar ‘Aisyiyah ke-35di Jakarta. Penyelenggaraannya bekerjasama dengan Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Karena itu, sekolah ini disebut Sekolah Bidan ‘Aisyiyah RSU-PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Pendirian sekolah ini kemudian diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 65 tanggal 10 Juli 1963.

 

Dibukanya pendidikan tenaga kesehatan ‘Aisyiyah ini melengkapi beberapa pendidikan keperawatan lain yang sudah ada sebelumnya, jumlahnya baru sekitar 5 sekolah bidan seluruh Indonesia. Pendidikan tenaga kesehatan ini semakin menegaskan peran dan fungsi ‘Aisyiyah di masyarakatdalam penanganan masalah ibu dan anak, kesehatan dan taraf kehidupannya.

 

Pengelolaan administrasi Sekolah Bidan ‘Aisyiyah di bawah PKU Muhammadiyah Yogyakarta, sedang pengawasannya oleh Bagian Paramedis Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (PPA) yang dijabat oleh Ibu Baroroh. Kantor pengelolaan di Jl. Nyai Ahmad Dahlan (sekarang menjadi kantor PPA). Seluruh siswa saat itu diasramakan. Asrama utama berada di Jl Nyai Ahmad Dahlan (Jayengprakosan). Asrama lainnya berada di ruang aula lantai 2 RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

 

Kepala Sekolah pertama kali Sekolah Bidan ini adalah Bapak dr. Purwo Husada, menjabat dari tahun 1963 sampai tahun 1973. Beliau adalah seorang dokter yang sederhana dan suka mentraktir, pengabdiannya sangat tinggi, bahkan berniat akan meninggal saat sedang mengajar. Gaji sebagai Kepala Sekolah tidak pernah diambil.

 

Selanjutnya, Sekolah Bidan dipimpin oleh dr. Harjo Jayadarma, dari tahun 1973 sampai tahun 1974. Beliau adalah seorang dokter PNS, pengabdiannya sangat profesional. Lulusan Sekolah Perawat dan Bidan diantar dan diserahkan sendiri ke persyarikatan daerah yang mengirimnya.

 

Sekolah Bidan ‘Aisyiyah didirikan dengan tujuan untuk mencukupikelangkaantenagabidan. Calon siswa diambil dari lulusansekolah lanjutan tingkat pertama (SMP). Salah satu syarat menjadi siswa Sekolah Bidan ‘Aisyiyah adalah harus mendapat rekomendasi dari persyarikatan, di ranting atau cabang ‘Aisyiyah Muhammadiyah daerah asal calon, bisa baca tulis Al Qur’an. Setelah lulus, para siswa dikembalikan ke daerah asalmasing-masing, denganharapan menjadi pionir kesehatansekaligus pionir keagamaan dan kemuhammadiyahan.

 

Sesuai perkembangan dan peraturan pemerintah, kemudiandibuka juga Sekolah Penjenang Kesehatan Tingkat C(SPK-C), setingkat SMP pada tahun 1964. Lulusan SPK-Cini, untuk menjadi bidan harus melanjutkan ke Sekolah Bidan selama 1 tahun. Ukuran kelulusan saat itu bukan lamanya sekolah,tetapi ketrampilan penanganan kasus,minimal 50 persalinan normal dan 5 persalinan tidak normal. Kasus sebanyak itu masih sangat memungkinkan dicapai, oleh karena jumlah bidan belum sebanyak sekarang, selain program Keluarga Berencana juga belum ada. Karena ketatnya persyaratan dan ketentuan pendidikan, pada angkatan keempat (1968-1972) dari jumlah siswa 25 pada tahun kedua yang tidak memenuhi syarat naik sebanyak 14 siswa, mereka harus dikeluarkan, sehingga tinggal 11 siswa.

 

Sistem pendidikan dan kondisi saat itu, ditambah nilai-nilai yang ditanamkan pada para siswa juga para pengurus, menjadikan hubungan tidak hanya bersifat formalitas tetapi menciptakan ikatan kekeluargaan yang kuat. Selain ilmu keperawatan, para siswa diharuskan mengikuti semacam Baitul Arqom selama tiga bulan. Materinya, yang pokok, adalah ilmu agama dan dakwah, juga tentang keputrian seperti menjahit dan tata meja. Mereka langsung melakukan praktek, yakni berceramah di masjid-masjid, bahkan dikirim sampai ke Purworejo.

 

Nilai kebersamaan dan semangat kemuhammadiyahan tidak hanya membentuk kepribadian, tetapi juga menciptakan prestasi-prestasi akademik. Para alumni SPK-C memiliki paguyuban KASPA (Keluarga Alumni Sekolah Penjenang ‘Aisyiyah).

 

Sekolah Bidan ‘Aisyiyah angkatan pertama menerima 23 siswa, setelah itu per angkatan 2 kelas, masing-masing 25 siswa. Kemudian, meningkat sesuai kemampuan dan ketersediaan dosen, sarana dan prasarana. Jumlah dosen awalnya hanya 6, jumlah tenaga umum 4 orang, dan 1 orang sopir setelah memiliki mobil operasional.Para siswa semuanya diasramakan, menggunakan bangunan di kompleks kantor PPA saat ini, Jalan KHA Dahlan nomor 32, dan lantai dua Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

 

Sekolah Bidan dan Sekolah Penjenang Kesehatan ‘Aisyiyah Rumah Sakit PKU Muhammadiyah selanjutnya digabung menjadi satu, diberi nama Sekolah Perawat Bidan ‘Aisyiyah (SPB A).

 

 

SEKOLAH PERAWAT BIDAN AISYIYAH (1975-1980)

 

Sekolah Perawat Bidan ‘Aisyiyah (SPB A) pertama kali dipimpin oleh Ibu Malichah, dari tahun 1974 sampai 1979. Ibu Malichah dikenal kesabarannya dan keramahannya dalam memimpin sekolah. Pada masa kepemimpinan beliau, dan atas peran Ibu Baroroh Baried juga ketika itu, SPB A mendapatkan hibah dari NOVIB Belanda, berupa bangunan asrama di kantor PPA Jalan KHA Dahlan 32 Yogyakarta. Namun demikian, asrama putri tersebar di beberapa tempat, sedangkan asrama putra ditempatkan di kampus Serangan. Adapun pelaksanaan pendidikan mengambil tempat di RS PKU Muhammadiyah.

 

Pada tahun 1979 Ibu Malichah pindah ke Jakarta, untuk sementara pimpinan sekolah SPB A dipegang oleh Ibu Ellyda Djazman dengan Pj. Ibu Ismawarti, sampai terpilihnya dr. Sutomo Parasto sebagai Kepala Sekolah. Dr. Sutomo menjabat dari tahun 1979 sampai 1983. Dr. Sutomo mengusulkan agar direktur/pimpinan SPB A tidak harus dijabat oleh dokter.

 

Kepemimpinan dr. Sutomo dibantu oleh Ibu Hikmah sebagai wakil direktur. Pada masa itu, siswa-siswa perawat dan bidan ‘Aisyiyah merasa sangat dihargai, tidak hanya profesionalitas tetapi juga kepribadiannya. Mulai saat itu diterapkan syarat minimal tinggi calon siswa 150 centimeter. Selain menyelenggarakan sekolah regular, saat itu juga mendapatkan percayaan dari pemerintah untuk menyelenggarakan Program Pendidikan Bidan (SPB). Departemen Kesehatan membuat kebijakan untuk menutup seluruh program kebidanan. Sebagai gantinya dibukalah Program Diploma Kesehatan Ibu dan Anak, tetapi hanya berlangsung satu tahun kemudian ditutup juga.

 

Departemen Kesehatan RI menganjurkan agar rumah sakit yang menyelenggarakan pendidikan, mulai memisahkan pengelolaannya. Anjuran ini dimaksudkan agar baik rumah sakit ataupun lembaga pendidikannya dapat berkembang lebih baik. Menanggapi hal ini maka dibentuklah Sekolah Perawat Kesehatan ‘Aisyiyah (SPK A).

 

 

SEKOLAH PERAWAT KESEHATAN AISYIYAH (1981-1995)

 

Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) ‘Aisyiyah dipimpin oleh Ibu HikmahShobri,yang menjabat cukup lama, yaitu dari tahun 1983 sampai 1995. Untuk pertama kalinya lembaga pendidikan tenaga kesehatan ‘Aisyiyah dipimpin oleh yang bukan berlatar belakang dokter, sebagaimana pernah diusulkan oleh dr. Sutomo Parasto. Lokasi sekolah dipindah dari RS PKU ke gedung sekolah di Serangan. Proses pendidikan dan pembentukan karakter para siswa perawat dilaksanakan dengan disiplin tinggi, baik di asrama maupun di sekolah. Ilmu pengetahuan kesehatan, realitas pekerjaan baik di rumah sakit maupun di rumah tangga, diajarkan melalui praktek langsung baik di asrama, sekolah, maupun praktik di rumah sakit. Protokoler, tegas dan disiplin harus dipahami dan dilaksanakan oleh siswa perawat ‘Aisyiyah.

 

Pada tahun 1985, berbarengan dengan dibukanya kembali Pendidikan Bidan oleh Departemen Kesehatan, Sekolah Perawat Kesehatan ‘Aisyiyah juga mendapatkan kewenangan untuk membuka kelas Program Pendidikan Bidan (PPB)setara Diploma 1. Program ini ditujukan bagi lulusan Sekolah Pendidikan Perawat dan Sekolah Pendidikan Kebidanan yang akan melanjutkan studinya. Target utama Program Pendidikan Bidan adalah menghasilkan bidan yang mampu, mandiri dan memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan dan peningkatan kesehatan ibu dan anak. Target kedua adalah menghasilkan bidan-bidan yang mahir melayani dan mendukung program Keluarga Berencana. Karena Progarm Pendidikan Bidan adalah program pemerintah secara nasional, maka mayoritas siswa Program Pendidikan Bidan adalah utusan dari institusi. Setelah lulus PPB, mereka dikembalikan untuk bertugas di institusi semula.

 

Ketika program nasional dari Departemen Kesehatan yang secara khusus memberi kesempatan kepada lulusan SPK untuk langsung mengikuti program pendidikan bidan, SPK ‘Aisyiyah juga diberikan kewenangan untuk menyelenggarakan program ini yang dikenal dengan Program Pendidikan Bidan A (PPB-A). Lulusan program ini kemudian ditugaskan ke desa-desa menjadi Bidan Desa, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menurunkan angka kematian ibu dan anak.

 

SPK ‘Aisyiyah juga menyelenggarakan program Departemen Kesehatan yaitu pendidikan lanjutan selama setahun untuk para lulusan Akademi Keperawatan. Program ini disebut Program Pendidikan Bidan B (PPB-B). Target utama program ini adalah mempersiapkan tenaga pengajar untuk para siswa PPB-A. PPB-B terselengara sebanyak dua angkatan, kemudian ditutup.

 

Tahun 1983, SPK ‘Aisyiyah ikut larut dalam kebangkitan profesi keperawatan. Tahun 1984, SPK ‘Aisyiyah ikut melaksanakan kurikulum nasional Pendidikan D3 Keperawatan.

 

 

AKADEMI KEPERAWATAN AISYIYAH (1991-1998)

 

Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa Sistem Kesehatan Nasional harus diwujudkan sebagai tatanan yang mencerminkan upaya seluruh bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan mencapai derajat kesehatan yang optimal demi kesejahteraan umum. Karenaitu pemerintah membuka program non gelar/diploma di pendidikan tinggi kesehatan sebagai program pendidikan kejuruan/kedinasan agar tercukupi kebutuhan tenaga Ahli Madya Bidang Keperawatan yang bertugas meningkatkan mutu layanan keperawatan.

 

Kebijakan pemerintah inikemudian ditindaklanjuti oleh Akper‘Aisyiyah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya. Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Bagian Pendidikan Paramedis mengajukan surat (nomor 17/H/1991) kepada Kementerian Kesehatan RI, berisi permohonan untuk melakukan konversi Sekolah Pendidikan Keperawatan (SPK) ‘Aisyiyah Yogyakarta menjadi Program Diploma IIIKeperawatan. Pada tanggal 6 Juni 1991, Departemen Kesehatan RI secara resmi menunjuk dan mengijinkan Akademi Keperawatan ‘Aisyiyah Yogyakarta untuk menyelenggarakan Program Diploma III Keperawatan.

 

Ijin Penyelenggaraan Program Diploma III  Keperawatan ini berlakuselama 2 tahun, selanjutnya perludiperpanjang. Karena itu, sejak tahun ajaran 1991/1992, penerimaan siswa Sekolah PK Aisyiyah dihentikan. Kanwil Depkes DIY memberi ijin Akademi Keperawatan ‘Aisyiyah Yoguakarta menerima mahasiswa baru melalui surat nomor 7930/Kanwil/PPTK-3/VI/1991 tanggal 24 Juni 1991. Adapunsiswa SPK yang masih tersisa dua angkatan, harus difasilitasi sampai mereka lulus. Kepala SPK ‘Aisyiyah Yogyakarta, Ibu Hikmah Sobri, selanjutnya ditugasi menjadi Direktur Akper Aisyiyah Yogyakarta.

 

Akper ‘Aisyiyah kemudian mendapatkan kepercayaan dari Departemen Kesehatan untuk mengelola Program Pendidikan Bidan, baik untuk Bidan Swasta maupun Pendidikan Bidan Desa. Program Pendidikan Bidan Desa adalah milik pemerintah, pembiayaan keseluruhan keperluan pendidikan ditanggung oleh pemerintah dan semua lulusan peserta didiknya ditempatkan di pedesaan oleh Departemen Kesehatan RI. Selain itu, terdapat Program Pendidikan Bidan Swadaya, dimana seluruh pembiayaan dan keperluan pendidikannya ditanggung sendiri oleh peserta didik.

 

Program Pendidikan Diploma III Keperawatan saat itu menyelenggarakan Kelas Ikatan Dinas, lulusannyalangsung mendapatkan penempatan kerja. Kebanyakan penempatannyadi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, terutama di tempat asal lulusan, atau sesuai dengan asal surat rekomendasi Persyarikatan. Prosedurnya,tetap dengan cara mengajukan surat lamaran ke DepkesRI, dengandilampiri keteranganRumah Sakit tujuan yang kelak akan dijadikan tempat pengabdian. Jadi,dapat dikatakan, semua lulusan Program Diploma III Keperawatan saat itu langsung terserap sesuai dengan persyaratan yang telah dipenuhi.

 

 

AKADEMI KEBIDANAN AISYIYAH (1998-2003)

 

Akademi Kebidanan ‘Aisyiyah Yogyakarta adalah konversi dari Akademi Keperawatan ‘Aisyiyah Yogyakarta.  Salah satu alasannya adalah larangan dari Depkes untuk menambah program kebidanan. Walaupun mahasiswa Akademi Keperawatan juga masih tinggi animonya, tetapi saat itu kebidanan sedang ‘booming’ banyak peminat juga kebutuhannya. Alasan lainnya adalah larangan Depkes untuk menambah institusi pendidikan Akademi Kebidanan/Akademi Keperawatan di Yogyakarta, yang saat itu ada 5 institusi yaitu ‘Aisyiyah, Poltekkes, Notokusumo, Panti Rapih, dan Bethesda.

 

Ijin penyelenggaraan Akademi Kebidanan ‘Aisyiyah dikeluarkan melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor HK.00.06.1.3.02187 tanggal 18 Mei 1998. Akbid ‘Asiyiyah menerima mahasiswa baru mulai tahun ajaran 1998/1999. Angkatan pertama dibatasi hanya boleh menerima mahasiswa sebanyak 60 orang. Sejak itu pula, Akper ‘Aisyiyah tidak boleh menerima mahasiswa baru lagi dan berkewajiban menyelesaikan penyelenggaran pendidikan mahasiswa tingkat II dan III yang masih tersisa. Akbid ‘Aisyiyah membuka dua jalur, yaitu kelas regular untuk lulusan SMU/SMK dan kelas khusus Rabu dan Sabtu untuk lulusan Sekolah Perawat Kesehatan dan PPB Diploma I.

 

Dalam masa transisi ini, Akbid ‘Aisyiyah hanya menyelenggarakan Program Studi D3 Kebidanan dan menghabiskan mahasiswa Akper.Akibatnya, banyak tenaga dosen keperawatan yang tidak lagi mengajarkan bidang keperawatan. Dosen-dosen keperawatan yang baru selesai studi lanjut kembali ke kampus yang sudah berubah menjadi Akademi Kebidanan. Sementara, di sisi lain  para dosen kebidanan dituntut untuk studilanjutanbidang kebidanan. Karena itu, dalam masa transisi ini, di Akbid ‘Aisyiyah terjadi komposisi struktural yang cukup menarik, yaitu sebuah Akademi Kebidanan yang ditangani oleh pendidik dan tenaga kependidikan yang mayoritas berbasis bidang keperawatan. Direktur Akademi Kebidanan ‘Aisyiyah dijabat oleh Bapak Syaifuddin, Wakil Direktur I dijabat oleh Ibu Mufdillah. Karena beliau melanjutkan sekolah Kebidanan, maka Wakil Direktur I digantikan oleh Ibu Warsiti. Wakil Direktur II dijabat oleh Ibu Yuli Isnaeni.

 

Setahun berjalan, pada tahun 1999keluar Surat Keputusan Direktorat Pendidikan Tinggi (nomor 427/Dikti/Kep/1999)tentang landasan dibentuknya pendidikan keperawatan berbasis S1 Keperawatan,atas rekomendasi Persatuan Perawat Nasional Indonesia yang didukung oleh Departemen Kesehatan RI. Namun demikian, ada kebijakan dari Departemen Kesehatan yang menyetarakan D4 Keperawatan di Poltekkes dengan jenjang S1 dan diperbolehkan melanjutkan studi pascasarjana S2. Keterbatasan dan ketergantungan kepada Departemen Kesehatan mulai dirasakan mengurangi kemampuan dan kemandirian. Maka, saat itu PPA Bidang Pendidikan Kesehatan mengupayakan untuk mendapatkan pernaungan institusi di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, sehingga istitusi Akademi Kebidanan/Akademi Keperawatan berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ‘Aisyiyah.

 

 

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (2003-2016)

 

STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta resmi berdiri pada tanggal 14 Oktober 2003, berdasarkan SK Mendiknas RI Nomor 181/D/O/2003. Program studi yang diselenggarakan ada dua, yaitu Prodi D III Kebidanan dan Prodi S1 Keperawatan. Prodi S 1 Keperawatan, selain menerima pendaftaran mahasiswa melalui jalur reguler, juga menerima mahasiswa program alih jalur. Banyak lulusan Prodi D III Kebidanan yang mendaftar dan mengikuti program alih jalur ini.

 

Pada tahun 2008, berdasar SK Dirjen Dikti Depdiknas RI nomor 267/D/O/2008 diperoleh ijin penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Ners, termasuk salah satu dari 48 perguruan tinggi yang diberi ijin menyelenggarakan Pendidikan Profesi Ners.

 

Pada tahun 2008 juga diinisiasi Program Studi Diploma IV Bidan Pendidik, diperoleh ijin berdasarkan SK Dirjen Dikti Depdiknas RI nomor 979/D/T/2009  tanggal 18 Juni 2009. Pilihan Prodi D IV Bidan Pendidik dengan alasan adanya kebutuhan tenaga dosen kebidanan D III yang jumlahnya sangat terbatas, sehingga diharapkan dengan program alih jalur (Aanvullen) lulusan D III bisa masuk D IV dan setelah lulus diperbolehkan mengajar D III Kebidanan.

 

Pimpinan Pusat 'Aisyiyah melalui Bidang Pendidikan Paramedis saat itu sebenarnya sudah berharap bahwa peralihan menjadi STIKES 'Aisyiyah ini dalam rangka persiapan untuk menjadi universitas. Bapak Prof. Drs. A. Malik Fajar, M.Sc., Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional RI, sangat mendukung dan mendorong berdirinya Universitas 'Aisyiyah. Untuk itu, maka dilakukan upaya penambahan program studi. Oleh dokter Erwin Santosa, Sp.A., Dekan Fakultas Kedokteran UMY, diusulkan pembukaan Program Studi Fisioterapi. Kemudian dilakukan studi banding ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah yang juga sekaligus Badan Penyelenggara, Ibu Dra. Hj. Noordjannah Djohantini, M.M., M.Si.  terus mengembangkan harapan akan hadirnya sebuah Universitas 'Aisyiyah. Maka dibentuklah tim task force. Selain melakukan studi banding ke UMS, tim juga melakukan studi banding ke Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Tujuannya, selain berkoordinasi, juga untuk melakukan pengkajian kemungkinan program studi yang memiliki prospek bagus tetapi tidak tumpang tindih dengan perencanaan program studi pada perguruan tinggi yang masih dibawah satu payung persyarikatan Muhammadiyah. Agar saling melengkapi dan berkompetisi pada ciri kekhasan masing-masing. Pola ini juga selalu dilakukan ketika akan membuka program-program studi yang lain, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama.

 

Pada tahun 2012 dibuka Program Studi S1 Fisioterapi, mendapatkan legal formal melalui SK Mendikbud RI no. 66/E/O/2012. Program S2 Ilmu Kebidanan dibuka pada tahun 2014 berdasar SK Mendikbud RI no. 080/P/P/2014. Program S2 ini sudah menyesuaikan dengan kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Seiring dengan perkembangan institusi dan tuntutan legalitas administrasi pendidikan, program-program studi yang telah ada tersebut kemudian mendapat sertifikat akreditasi dari BAN-PT.

 

STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta memiliki kampus pusat di Jalan Munir 267 Serangan Yogyakarta. Seiring dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan tambahan ruang kelas, diupayakan adanya Kampus II di Jalan Cokroaminto 17 Yogyakarta eks Kampus UMY. Pada periode ini mulai membangun Kampus Terpadu di Jalan Siliwangi (Ringroad Barat) 63 Mlangi Nogotirto Gamping Sleman.

 

Asrama mahasiswa disediakan untuk menunjang kelancaran dan menjamin ketenangan dalam proses belajar mengajar. Kapasitas asrama untuk 100 mahasiswa dengan suasana kondusif, nyaman, aman tidak jauh dari kampus dan fasilitas lainnya. Asrama STIKES 'Aisyiyah terbagi menjadi dua lokasi yaitu di asrama Jl. KHA Dahlan 30 dan32 Yogyakarta.

 

Dibawah kepemimpinan Ketua STIKES 'Aisyiyah Ibu Warsiti. S.Kp., M.Kep., Sp.Mat. yang bersinergi dengan seluruh civitas akademika menyusun strategi untuk menggoreskan prestasi. Capaian prestasi itu antara lain adalah menjadi Sekolah Tinggi Kesehatan terbaik di Indonesia. Berdasarkan keputusan Menristekdikti RI no. 492.a/M/Kp/VII/2015 tentang klasifikasi dan pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia tahun 2015, STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta berada di peringkat ke 72 dari total 3.320 perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.

 

 

Menjadi Universitas ‘Aisyiyah

 

Pada tanggal 10 Maret 2016, secara resmi STIKES 'Aisyiah berubah statusnya dari sekolah tinggi menjadi universitas, diberi nama Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, disingkat UNISA Yogyakarta, berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi nomor 109/KPT/I/2016. Alhamdulillah...


Tags: SejarahUniversitasAisyiyah , PendidikanKesehatan'Aisyiyah , AkperAIsyiyah , AkbidAIsyiyah , STIKESAisyiyah
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori : Sejarah PTA

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website