cool hit counter

Majelis Pustaka dan Informasi - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Pustaka dan Informasi
.: Home > Artikel

Homepage

Muhammadiyah dan Literasi di Abad Kedua (Refleksi terhadap Kopdarnas Penggiat Literasi)

.: Home > Artikel > Majelis
21 Desember 2017 22:14 WIB
Dibaca: 730
Penulis : Fauzan Anwar Sandiah

 

 

Solopos memuat opini Setyaningsih dengan judul “Mempermasalahkan (Lagi) Literasi”. Opini tersebut mengomentari diskusi-diskusi yang yang muncul selama penyelenggaraan Kopdarnas Penggiat Literasi Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (8-10 Desember 2017). Pertama, Setyaningsih mencatat bahwa pertumbuhan budaya literasi pada umumnya tidak dapat dilepaskan dari konteks hadirnya campurtangan Negara maju terhadap negara dunia ketiga. Dia menulis, “Negara-negara Barat memang selalu berupaya menyelamatkan budaya literasi di negara-negara dunia ketiga” melalui produksi dan distribusi buku.

 

Kedua, secara mengesankan dia menulis bahwa setiap sudut penyelenggaraan Kopdarnas Literasi Muhammadiyah sebagai “bombastis”. Tentu saja istilah bombastis bermaksud untuk menunjukkan betapa semunya rangkaian sesi penguatan jaringan literasi yang hanya dilakukan melalui “penandatanganan kerja sama” dengan nuansa hadirnya “petinggi-petinggi” di “..gedung berpendingin” tanpa paham bahwa buku adalah persoalan “kemewahan di tengah kesulitan makan dan beban kerja”.

 

Ketiga, Setyaningsih menyatakan bahwa dalam acara Kopdarnas, sama sekali tidak tampak situasi kehidupan dan diskusi tentang buku-buku, sehingga keseluruhan diskusi Kopdarnas hanya berisi “dongeng literasi”. Keempat, secara meyakinkan Setyaningsih menulis “..sosialisasi gerakan literasi, terutama membaca, selalu bermula dari kesimpulan bahwa orang-orang (lain) tidak membaca. ‘Aku’ yang  masih membaca dan purna membaca tidak dimasalahkan”.

 

Tulisan ini bermaksud untuk mendiskusikan empat hal tersebut. Jika dibaca secara seksama, Setyaningsih menulis empat problem dalam Kopdarnas tersebut berdasarkan satu sesi yang memang pada dasarnya bersifat seremonial. Secara keseluruhan, dia membangun kesimpulan dengan mengambil secara acak potongan-potongan kejadian, kemudian menyesuaikannya dengan kerangka internalnya sendiri untuk melakukan penilaian kritis. Seorang penulis opini pada dasarnya tidak bekerja untuk memilih fenomena supaya bersesuaian dengan asumsi dirinya sendiri. Etos Ptolemian semacam itu jamak ditemukan, di mana orang-orang memilih untuk membuat supaya setiap fenomena dapat dibaca melalui asumsinya sendiri. Alhasil, fenomena sebagai proses materil harus ditundukkan pada asumsi yang belum tentu tetap relevan.

 

Perlu ditegaskan bahwa saya tidak bermaksud untuk menjebakkan diri sendiri dalam perdebatan soal benar-salah apa yang ditulis oleh Setyaningish. Bagi saya hal itu tidak relevan untuk menjadi pengantar diskusi yang reflektif. Barangkali saya sebenarnya hanya ingin merefleksikannya dengan apa yang saya catat dan renungi dari penyelenggaraan Kopdarnas Literasi layaknya sebagai seorang insider. Dan jika memungkinkan, tulisan ini juga berupa merespon empat problem Kopdarnas yang diangkat sehingga menjadi jelas posisinya dalam perjalanan gerakan literasi di Muhammadiyah.  

 

 

Apa sebenarnya Kopdarnas Literasi?

 

Secara keseluruhan Kopdarnas Literasi dikonsep dari rumus sederhana; 10% seremoni, 50% pemaparan rekomendasi dan penjabaran perkembangan praktik literasi, 40% terdiri dari aktivitas partisipatif. Kopdarnas sejak awal bermaksud mengafirmasi kerja-kerja literasi pegiat dan aktivis Muhammadiyah. Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi Pimpunan Pusat Muhammadiyah (MPI PP Muhammadiyah) mengkonsepnya menjadi satu pertemuan yang fleksibel, bernuansa komunitas, dan berusaha mengakomodir beragam isu-isu mendasar mengenai literasi. Semua ini sebenarnya tercermin dengan sangat kasat mata di mana hampir 60% peserta yang hadir merupakan aktivis Muhammadiyah yang sehari-hari juga mengurus perpustakaan publik di desa, kampung, pinggir sungai, dan area pegunungan. Mereka terdiri dari mubaligh Pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah (PCM dan PRM, struktur organisasi untuk tingkat kecamatan dan desa), guru sekolah, pustakawan sekolah, angkatan muda Muhammadiyah, pemilik lapak buku lawasan, pengurus MPI tingkat Wilayah (Provinsi) dan Daerah (Kabupaten Kota).

 

Partisipan Kopdarnas sebanyak 40% terdiri dari partisipan swadaya yang sengaja datang untuk bertemu dengan rekan-rekan sesama penggerak literasi dari berbagai tempat. Mereka berkeliaran dari satu tempat ke tempat lain untuk berbicara tentang bagaimana upaya-upaya menggerakan komunitas literasi. Saya kira forum Kopdarnas tidak saja yang terjadi di dalam ruangan “berpendingin” tetapi juga di lobi gedung, di sana ada pelapak-pelapak majalah gratis, buku gratis, lapak jual buku sastra, filsafat, ilmu sosial, buku lawasan, hingga buku-buku “terlarang”.

 

 

Soal Dunia Buku dan Orang Muhammadiyah

 

Saya ingin menggambarkan bagaimana aktivis Muhammadiyah mengelola gerakan literasi. Barangkali karena saya sendiri terlibat dalam Muhammadiyah, sekaligus juga ikut mengelola komunitas literasi. Saya dekat dengan orang-orang Muhammadiyah yang terlibat dengan dunia perbukuan. Penting bagi saya untuk merefleksikannya sekedar menjawab bagaimana dalam rentang waktu yang terbaru, orang-orang Muhammadiyah  beraktivitas seputar dunia perbukuan dan dunia literasi. Orang-orang perbukuan di Muhammadiyah ini pada umumnya merupakan pengajar/guru yang menyenangi membaca karya sastra, entah Kahlil Gibran, Hemingway, atau Hamka; pengurus Pemuda Muhammadiyah yang sejak dulu dikenal sebagai pembaca, kolektor buku langka; pustakawan-pustakawan Muhammadiyah; “Ibunda” dan “Ayahanda” Muhammadiyah di mana hampir sepertiga rumahnya dipenuhi oleh buku (terdiri atas kitab-kitab tafsir, pemikiran Islam klasik, filsafat, bacaan populer, dan yang berkaitan dengan profesi masing-masing) sehingga merupakan perpustakaan yang tidak saja menyimpan sejarah tetapi juga sebuah sumber inspirasi hidup mereka; atau juga anak-anak muda Muhammadiyah yang tekun menggorganisir, menulis buku, melakukan perlawatan literasi, hingga terlibat dalam kerja-kerja riset penting; beberapa yang banyak adalah simpatisan Muhammadiyah, mereka tumbuh di lingkungan pendidikan Muhammadiyah, menjadi aktor dalam dunia perbukuan.

 

Beragamnya karakter penggiat buku di Muhammadiyah, kita memahami bahwa ini tidak saja karena faktor sosiologis, di mana Muhammadiyah tumbuh di kota-kota, atau sentral kebudayaan. Faktor yang sebenarnya adalah bahwa Muhammadiyah pada dasarnya memang rumah bagi orang-orang yang menginginkan proses modernisasi kehidupan. Orang-orang Muhammadiyah terbiasa bersentuhan dengan perkembangan kehidupan modern; entah itu dalam pemikiran keagamaan ataupun dalam tindakan-tindakan pribadi dan publik. Proses ini menciptakan karakter keagenan literasi yang unik. Di Muhammadiyah, sejak generasi awal, menghasilkan satu kelas cendekia yang menulis dan mendokumentasikan tindak-tunduk kolektifnya. Orang-orang ini terdorong untuk memperbarui informasi dan mengintegrasikannya ke inovasi organisasi. Pasca generasi cendekia masa-masa awal berdirinya Muhammadiyah—dengan melampaui masa pertengahan 1950-an—aktivis Muhammadiyah tetap mempertahankan literasi sebagai kata kerja untuk menjelaskan bagaimana perilaku konsumsi buku, produksi buku, distribusi informasi,  dan penguatan ideologi mereka kerjakan.  

Orang-orang perbukuan di Muhammadiyah yang lebih terkini pasca 1998, dibentuk oleh beragam situasi. Sepanjang tahun 1990-an, kelompok cendekia Muhammadiyah yang juga sering disebut sebagai kelompok “Begawan” di antaranya Amien Rais, Kuntowijoyo, Muslim Abdurrahman, Ahmad Syafii Ma’arif, Dawam Rahardjo, dan Abdul Munir Mulkhan membuka jembatan penting bagi interaksi diskursif aktivitis Muhammadiyah yang lebih muda dalam konteks politik baru pasca otoritarianisme, lengkap dengan semua implikasinya. Pasca masa “Begawan”, orang-orang perbukuan di Muhammadiyah diisi oleh generasi yang lebih muda. Mereka ditumbuhkan secara matang oleh peredaran bahan bacaan yang karena perubahan situasi politik menjadi lebih memungkin. Generasi yang lebih muda ini mengembangkan aktivitas literasi secara radikal. Mereka adalah orang-orang yang mencoba mempraktikkan gagasan Islam Transformatif secara kolektif melalui organisasi otonom Muhammadiyah. Mereka memprakarsari modifikasi acuan-acuan pendidikan kekaderan, dan mengubah bentuk interaksi pedagogik. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Azaki Khoiruddin (2016), sebelum generasi ini populer di bawah label organisatoris yang disebut “Islam Berkemajuan”, eksperimen perbukuannya justru banyak berinteraksi dengan gagasan-gagasan pendidikan Kritis ala Paulo Freire atau pemikiran Mahzab Frankfurt.

 

Barangkali hal ini secara langsung dapat teramati dalam diskusi-diskusi yang diselenggarakan oleh Aktivis Ikatan Pelajar (IPM) dan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang membuat kelompok-kelompok epistemik pasca tahun 2000. Mereka berupaya keras untuk menemukan jalur pengetahuan mengenai Islam Transformatif dengan membaca buku-buku dan menyelenggarakan aktivitas literasi. Mereka juga mewarisi kebiasaan menulis di edaran offline hingga online. Orang-orang perbukuan di Muhammadiyah hanya dapat dipelajari melalui pemahaman akan keadaan semacam ini. Di kota-kota menengah, orang-orang perbukuan Muhammadiyah juga digerakkan oleh generasi yang lebih muda, di mana mereka yang telah mewarisi kestabilan infrastruktur organisasi tidak menemui kesulitan yang berarti kecuali keadaan literasi lokal juga kondusif. Sedangkan di tempat-tempat di mana kompetisi mendirikan infrastruktur persyarikatan begitu terasa, anak-anak muda selain mengurus aktivitas literasi juga terlibat dalam jabatan-jabatan publik, dan mendorong berdirinya AUM yang “progresif”. 

 

Alumni organisasi otonom di Muhammadiyah juga terlibat dalam dunia pendidikan. Mereka menjadi kepala sekolah, guru, pengajar, akademisi, yang membawa praktik-praktik kehidupan epistemik diskusi buku ke dalam dunia baru yang mereka tekuni. Maka tidak heran, sebagai guru mereka juga aktif menulis, dan sangat tertarik dengan berbagai perdebatan-perdebatan yang beredar offline (jika dulu melalui media cetak) dan tentu saja 90% merespon perdebatan yang bersebar di aplikasi wicara serta media sosial. Di samping itu, tidak bisa dikesampingkan juga bahwa orang-orang buku di Muhammadiyah tidak lahir dari komunitas epistemik di organisasi otonom.

 

 

Genealogi Gerakan Literasi     

 

Hanya ada satu dugaan yang paling populer mengenai asal-usul dari apa yang sekarang dikenal dengan istilah literasi. Manusia mentransformasi ruang sosial sebagai implikasi dari waktu-luang menjadi ruang diskursi. Kelompok borjuis menggunakan waktu-luang untuk membaca, menulis, dan mendiskusikan tema-tema mengenai teater, pertunjukan musik, atau menanggapi panjang lebar orasi-orasi yang jamak ditemukan di ruang publik. Pada abad delapanbelas dan sembilanbelas, praktik semacam ini berubah menjadi jalur kritik politik. Orang-orang membentuk kolektif-kolektif membahas selebaran-selebaran resmi pemerintah, koran-koran, hingga menanggapi catatan perjalanan seorang kolektor barang langka tentang bidang ilmu pengetahuan terkini. Pada abad duapuluh, klub-klub baca, dan pentas-pentas drama klasik di Radio menjadi bentuk pertama aktivitas yang sekarang menjadi satu-satunya kategori kita tentang apa itu gerakan literasi. Tidak heran jika aktivitas yang berhubungan langsung dengan buku (membaca dan menulis) menjadi ciri khas gerakan literasi, kendati masa industri telah memberinya sebuah tugas baru sebagai proses mempersiapkan suatu kelas tenaga kerja modern.

 

Gerakan literasi pada umumnya dibaca menggunakan pendekatan gerakan sosial (social movement approach), sehingga membuka aspek lain dari gagasan mengenai kampanye membaca, perpustakaan publik, dan akses informasi tidak sekedar kebutuhan pengembangan kapasitas diri, melainkan alat mengartikulasikan ide pengubahan. Selain itu, gerakan literasi sebenarnya bersumber secara langsung pada masa-masa pendidikan kritis diperkenalkan misalnya di Amerika Latin. Sedangkan jika ditelusuri menggunakan sejarah perdebatan sastra sejak masa modern, maka diketahui bahwa gerakan literasi pada awalnya merupakan upaya menyediakan ruang untuk membawa ide-ide soal hak individu dan kolektif.

 

Gerakan literasi di Indonesia tidak diragukan lagi muncul dari imajinasi antikolonial. Di Kota-kota besar pada akhir tahun 1890 hingga 1900-an semacam Jakarta, Bandung, dan Surayaba, klub-klub pembaca buku muncul. Korespondensi surat-menyurat pada masa itu tidak jarang  membicarakan buku. Orang-orang non-Eropa juga mengoleksi buku di rumahnya, menerbitkan koran secara mandiri, dan membuat diskusi-diskusi terbatas. Orang-orang melibatkan diri dalam ruang literasi didorong oleh prinsip mendasar bahwa pengetahuan menjadi kunci pembebasan. Literasi dalam pengertian sebagai proses mengakses ilmu pengetahuan merupakan kunci masyarakat yang berdaya-tahan. Artinya jika belajar dari genealogi gerakan ini, dasar motif keterlibatan orang-orang dalam gerakan literasi tidak dilandasi oleh spirit pedagogik semata, tetapi juga spirit liberasi. Kehadiran gerakan literasi merupakan fase kedua yang mengawali peristiwa-peristiwa transisi sosial dalam situasi politik modern.

 

 

Refleksi Abad Literasi Baru Muhammadiyah

 

Paling tidak ada beberapa hal penting yang patut dicatat selama penyelenggaraan Kopdarnas Literasi. Pertama, adalah bahwa literasi melampaui persoalan “pemberantasan buta huruf”. Peristiwa sesungguhnya dari literasi tidak hanya tentang “minat baca”, tetapi kebudayaan dan bagaimana otonomitas Bangsa berasal dari kerja kebudayaan. Literasi dengan demikian merupakan suatu pekerjaan kebudayaan. Jadi ketika orang Muhammadiyah bekerja untuk literasi pada dasarnya mereka didorong untuk mengambil bagian bersama-sama pihak lain untuk mengemansipasi suatu wujud budaya. Kedua, dalam Kopdarnas etos kolaborasi menjadi sangat dominan. Setiap orang Muhammadiyah yang terlibat dalam kerja literasi pada umumnya mengembangkan daya-tahannya masing-masing karena kemampuan berkolaborasi. Mereka membentuk jejaring sosial (perkawanan) untuk memberi energi bagi inisiasi baru gerakan literasi. Ketiga, Kopdarnas membuka peluang untuk menerka bagaimana genealogi gerakan literasi di Muhammadiyah terbentuk, yang pada kenyataannya tumbuh secara “tak terhubung tetapi terhubung”. Maksudnya, gerakan literasi dalam Muhammadiyah terhubung dalam bentuk imajinasi bahwa persoalan literasi merupakan misi bersama, sehingga sekalipun tidak terhubung secara fisik, tetapi mengembangkan imajinasi kolektif bahwa “Muhammadiyah itu gerakan literasi”. Orang Muhammadiyah dihubungkan dengan satu imajinasi bersama bahwa literasi adalah “kerja utama” ]yang sudah terjadi sejak awal mula Muhammadiyah lahir.

 

 

Fauzan Anwar Sandiah, Pegiat Literasi Rumah Baca Komunitas,

Pimpinan Pusat IPM 2014-2016


Tags: MuhammadiyahdanLiterasidiAbadKedua , KopdarnasLiterasi , FauzanAnwarSandiah

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website