cool hit counter

Majelis Pustaka dan Informasi - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Pustaka dan Informasi
.: Home > Artikel

Homepage

MENGAPA ADA FATWA “LOCKDOWN” MASJID DAN PENIADAAN IBADAH BERJAMAAH?

.: Home > Artikel > Majelis
24 Maret 2020 06:23 WIB
Dibaca: 339
Penulis : Faturrahman Kamal, Lc., M.S.I.

 

 

“Mengerikan”, mungkin menjadi kata yang mewakili perasaan galau dan was-was sebagian besar penghuni planet bumi hari-hari ini. China, Inggris, Italia, Spanyol, Perancis, Irlandia, Elsavador, Belgia, Polandia, Argentina, Yordania, Belanda, Denmark, Malaysia, Filipina, dan Libanon merupakan deretan negera-negara yang mengeluarkan kebijakan demi menekan penyebaran virus ini, dengan lockdown atau mengunci akses keluar masuk suatu wilayah.

 

Tak main-main, Kerajaan Arab Saudi bahkan melakukan “lockdown” terhadap Haramain : Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dua masjid termulia di muka bumi ini. Semuanya atas fatwa para ulama kredibel dan terkemuka, yang ditindaklanjuti dengan keputusan politik Kerajaan. Terakhir saya membaca berita, India “lockdown”. Anda lebih paham dari saya; wa mā adrāka ma India?. Negeri berpenduduk tak kurang dari 750 juta jiwa, kurang lebih 3 kali jumlah penduduk Indonesia. Tata kotanya ruwet, dengan persoalan sosial, agama, politik yang kompleks. Anda tau?, hanya dengan 7 korban meninggal dunia, India menyatakan “lockdown”!.

 

Jika pagi ini anda konfirmasi via wattsapp ke Pusat Informasi Covid-19 Kemkominfo Republik Indonesia; anda segera mendapat balasan “Situasi virus corona (COVID-19) 24 Maret 2020 di Indonesia: positif terjangkit virus, 686 orang; sembuh, 30 orang; dan meninggal dunia, 55 orang. Dan anda masih bebas ke manapun anda suka. Dahsyat!.

 

Dalam suasana seperti ini tugas para Ulama (otoritas keagamaan) adalah memastikan tujuan pokok dan fundamental Syari’ah (maqãshid Syari’ah)  terlaksana dengan baik : “Mewujudkan maslahat dan meniadakan kerusakan” dalam kehidupan dengan “menjaga jiwa manusia” (hifdhu-n-nafsi). Berdasarkan Dalil-dalil Al-Qur’an, Hadits, pendapat para Ulama terkemuka, dan kaidah-kaidah Fiqhiyah diterbitkanlah fatwa tata laksana ibadah umat Islam dalam situasi pandemi Covid-19 ini. Di antara konten fatwa tersebut; memberlakukan “lockdown” masjid, mengganti shalat Jum’at dengan shalat Dhuhur di kediaman masing-masing, serta tidak melaksanakan kegiatan keagamaan dengan konsentrasi massa lainnya.

 

Namun demikian, terdapat sementara orang berpandangan bahwa penutupan masjid dalam situasi pandemi Covod-19 bagian dari upaya melawan perintah Allah untuk memakmurkannya. Pun pula memberikan kesan merendahkan marwah masjid karena dituduh sebagai tempat penularan virus corona. Artinya masjid tidak bersih, tidak higienis padahal orang-orang yang meramaikannya senantiasa berwudlu'. Apakah memang demikian?

 

 

Persoalan sesungguhhya bukanlah demikian. Jangan ada yang menuduh bahwa para ulama tidak memahami marwah dan martabat masjid. Jangan pula dipersepsi fatwa para ulama sedunia, termasuk di Indonesia lemah dalil dan metode pendalilannya. Justeru sebaliknya, para Ulama terkemuka di dunia, termasuk di Indonesia menunjukkan kepada umat bagaimana semestinya masjid berada di zona terdepan dalam mewujudkan maslahat kehidupan, dan terdepan pula dalam upaya meniadakan kerusakan atau mafsadat kehidupan secara universal. Jangan sampai masjid-masjid kita meninggalkan jejak sejara