cool hit counter

Majelis Pustaka dan Informasi - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Pustaka dan Informasi
.: Home > Artikel

Homepage

Aktualisasi Wasathiyah Islam dan Realitas Ummat Islam

.: Home > Artikel > Majelis
13 Mei 2019 02:27 WIB
Dibaca: 104
Penulis : Admin

foto: Dinan Hasbudin Apip
 
 
Presentasi Sesi 1 Pengkajian Ramadhan 1440/2019 PP Muhammadiyah di ITB Ahmad Dahlan Jakarta, 12 Mei 2019
Oleh: Dr. Abdul Mu'ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah

 

 
Aktualisasi wasathiyah Islam dan bagaimana realitas ummat Islam dalam bergerak dalam pengamalannya. 
 
 
Indonesia sudah sangat maju, bahwa kerukunan antar umat beragama diatas 70 tahun, itu sangat bagus. Tapi ada riset lain yang menyatakan bahwa intoleransi justru tinggi di kalangan internal ummat beragama. Misalnya, konflik antar kelompok di dalam masyarakat Islam. 
 
Ummat Islam kalau terlibat konflik sangat terbuka. Kofliknya masalah furuiyah, dan koflik itu bisa terjadi di media massa.  Kondisi ini menjadi tantangan kita. Di kalangan ummat  ada gejala bergerak ke arah ekstrim, baik ke kanan maupun kiri. Yang kekanan yaitu yang beragama secara eksklusif dan menganggap di luarnya itu masuk neraka. Yang ekstrim kiri, menganggap teks tidak penting. Sehingga terjadi kontestasi. Kemudian yang menang adalah kelompok yang tengah, yang tegas dan toleran. Jadi, ada realitas dalam keummatan ini ysng cenderung ekstrim bahkan radikal. 
 
Mengapa pola gerakan itu cenderung konfrontatif? Hal ini dapat dijelaskan oleh beberapa hal berikut: pertama, ada akumulasi dari kekecewaan dan eskalasi dari berbagai masalah yang ummat menganggap pemerintah tidak aspiratif kemudian tidak protektif terhadap minoritas. 
 
Kedua, kecenderungan aparat itu represif bahkan preventif. Kalau ada tokoh tertentu bergerak langsung tersangka. Kalau ada gerakan tertentu langsung dianggap makar. Termasuk bagaimana fikiran juga diadili.
 
Ketiga, partai politik yang berbasis Islam kurang aspiratif terhadap ummat. Maka, ummat kemudian turun ke jalan karena partai tidak aspiratif. Jadi, menreka melakukan demo dengan aktivisme islam seperti zikir bersama-sama tapi sambil mengusung caleg atau capres. 
 
Keempat, ummat sering diperalat oleh elit. Maka jumlah dukungan massa menjadi dukungan poliik. Sehingga elit sering merasa mendapat dukungan besar dan ummat diperalat. 
 
Kelima, miskin strategi. Kalau dakwah selalu pendekatannya tradisional menggunakan megaphone. Suaranya keras tapi jamaahnya sedikit, maka pendekatannya mudah ditebak.
 
Saat ini yang bertarung adalah gerakan Islam yang sudah mapan dengan gerakan yang baru bangkit. Muhammadiyah dan NU termasuk establish movement. Sementara, ada organisasi baru yang energik yang tidak mau masuk organisasi yang ada. Mereka tidak mau berorganisasi tetapi bergerombol dan kemudian membuat organisasi lagi. 
 
Gerakan hibrida ini biasanya dicirikan oleh ustad hybrid. Gurunya tidak jelas, tetapi ganteng dan milenial. Dan ceramah-ceramah mereka tidak ada isinya. 
 
Dalam kondisi demikian ini maka orang politik mendomplengnya. Karena ummatnya dimanfaatkan maka kita diadukan, termasuk dengan pemerintah. Pola gerakan ini gerakannya lebih konfrontatif. 
 
Pendekatan wasathiyah itu adalah sebuah gerakan yang tidak ekstrem, dan berorientasi pada pencerahan. Kita boleh berbeda tetapi tidak bermusuhan. Walaupun kita tetap harus punya prinsip, namun prinsip itu bukan berarti menjadi tidak toleran. 
 
Khairo ummah itu adalah ummatan wasathan. Inilah pilihan gerakan Muhammadiyah. Walaupun kemudian orang menganggapnya lembek.

penulis: Roni Tabroni
editor: Arief Budiman Ch.

Tags: AktualisasiWasathiyahIslamdanRealitasUmmatIslam , PengkajianRamadhan1440/2019 , ITBAhmadDahlanJakarta

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website